Sejak tahun 2018, Anitawati mulai merevitalisasi tenun Tidore. Melalui pelatihan menenun, pendampingan usaha serta pemberdayaan perempuan, pemuda, pelajar dan warga binaan rutan, gerakan Anitawati tidak hanya melestarikan warisan budaya, tapi juga menciptakan peluang ekonomi berbasis industri kreatif.
Perempuan asli kelahiran Tidore ini mengembangkan motif-motif yang mengangkat sejarah Tidore sebagai Spice Islands. Anitawati menjadikan tenun sebagai media edukasi sejarah dan diplomasi budaya.
Berkat Anitawati, tenun Tidore tampil di berbagai ajang internasional, antara lain Indonesia New York Fashion Week (2022), Kyoto (2023), Cape Town (2023), Paris (2024), dan Rabat (2024). Tenun Tidore juga berhasil menembus pasar ekspor melalui outlet di Hamburg, Jerman.
Selain itu, Anitawati aktif menjadi narasumber dalam forum G20 Bali, Komunitas Jalur Rempah, Kemenkumham, Universitas Indonesia, Humboldt-Universität zu Berlin, dan Czartoryski Museum Kraków.
Saat ini, tenun Tidore sudah ditetapkan sebagai salah satu Wastra Langka Indonesia.