Anitawati menyebut revitalisasi tenun Tidore berdampak pada aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Dari sisi ekonomi, program ini membuka lapangan kerja bagi puluhan penenun tetap serta memberdayakan ratusan tenaga kerja pendukung, mulai dari penyedia bahan pewarna alami, pengolah serat hingga pengrajin kemasan.
Program ini juga menciptakan peluang kerja inklusif bagi perempuan, generasi muda, pelajar dan warga binaan rutan melalui pelatihan keterampilan dan kewirausahaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pengrajin melalui pendapatan yang berkelanjutan.
Dampak di bidang budaya dan sosial, revitalisasi tenun Tidore berhasil menghidupkan kembali warisan wastra yang sempat hilang lebih dari 100 tahun. Motif-motif yang mengangkat sejarah Spice Islands menjadi media edukasi, memperkuat identitas budaya, mendorong regenerasi penenun muda, menumbuhkan kebanggaan masyarakat serta mengembangkan wisata edukasi berbasis budaya.
Dari sisi lingkungan, proses produksi menerapkan prinsip keberlanjutan melalui penggunaan pewarna alami dan bahan baku lokal, pemanfaatan limbah kain menjadi produk bernilai tambah (upcycling) dengan konsep zero waste serta kemitraan dengan pemasok serat yang dikelola secara bertanggung jawab.
Menurut Anitawati, pendekatan ini menjadikan tenun Tidore sebagai model pelestarian budaya yang selaras dengan pembangunan ekonomi inklusif dan keberlanjutan lingkungan.