Kecemasan atau anxiety juga merupakan respons yang bisa dialami siapa saja. Merasa cemas sebelum wawancara kerja, presentasi, ujian atau menghadapi situasi yang tidak pasti merupakan hal yang cukup umum.
Namun, kecemasan tidak selalu membutuhkan pemicu yang sedang terjadi saat itu.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa stres biasanya berkaitan dengan pemicu dari luar, sedangkan kecemasan dapat berupa kekhawatiran yang terus muncul bahkan ketika tidak ada pemicu stres yang jelas.
Misalnya, seseorang sedang baik-baik saja di rumah, tetapi pikirannya terus dipenuhi kemungkinan buruk yang sebenarnya belum terjadi.
"Bagaimana kalau keputusan yang saya ambil ternyata salah?"
Pikiran seperti ini bisa terus berulang dan sulit dihentikan.
Secara fisik, kecemasan juga dapat membuat tubuh ikut bereaksi. WHO mencatat gejala gangguan kecemasan dapat meliputi ketegangan, sulit berkonsentrasi, sulit tidur, jantung berdebar, berkeringat, gemetar, mual dan rasa seperti akan terjadi sesuatu yang buruk.
Namun, munculnya satu atau dua gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan.
Kapan kecemasan mulai perlu diperhatikan?
Yang perlu diperhatikan bukan hanya ada atau tidaknya rasa cemas, tetapi seberapa sering muncul, berapa lama berlangsung dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.
WHO menjelaskan bahwa gangguan kecemasan ditandai dengan rasa takut atau khawatir yang berlebihan dan sulit dikendalikan. Kondisi tersebut dapat berlangsung dalam waktu lama dan mengganggu aktivitas, pekerjaan, sekolah maupun hubungan sosial.
Karena itu, merasa gugup sebelum presentasi tentu berbeda dengan terus-menerus merasa takut terhadap berbagai kemungkinan sampai sulit menjalani aktivitas sehari-hari.
Stres karena pekerjaan yang menumpuk mungkin berkurang setelah pekerjaan selesai. Namun, jika tekanan berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi tidur, suasana hati, konsentrasi atau aktivitas sehari-hari, kondisinya patut diperhatikan.
Stres dan cemas bisa muncul bersamaan
Meski berbeda, stres dan kecemasan bukan dua hal yang selalu berdiri sendiri.
Seseorang yang sedang mengalami tekanan berat bisa menjadi cemas. Sebaliknya, kecemasan yang terus berlangsung juga dapat membuat seseorang semakin sulit menghadapi tekanan sehari-hari.