Kedua, data berbentuk Analisis Sektoral yang di dalamnya mengandung informasi masing-masing sektor baik menurut skala usaha, maupun menurut wilayah. Ketiga, data berbentuk masukan atau insight yang isinya berupa tinjauan analisis lainnya seperti ekonomi lingkungan dan ekonomi digital.

Presiden Prabowo Subianto sendiri juga menekankan pentingnya pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 untuk memperbarui data perekonomian Indonesia. Menurutnya, kualitas data Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi salah satu penentu akurasi kebijakan dan penyusunan APBN.

Prabowo mengatakan, Indonesia sudah lebih dari 10 tahun belum melakukan pembaruan metode dan dasar penghitungan aktivitas ekonomi. Hal ini diungkapkan olehnya dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU Tentang APBN TA 2027 beserta Nota Keuangan dan Dokumen Pendukungnya beberapa waktu lalu.

Masyarakat, pinta Prabowo, harus ikut menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 yang berlangsung hingga akhir bulan ini. Sensus tersebut melibatkan sekitar 251.000 petugas yang bekerja di seluruh desa di Indonesia.