USGS (United States Geological Survey) atau Survei Geologi Amerika Serikat juga menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat mengandung silika kristalin. Namun, dampak kesehatan sangat bergantung pada jenis abu, konsentrasi partikel di udara, serta tingkat dan lamanya paparan.
Selain partikel padat, erupsi gunung api juga dapat menghasilkan berbagai gas vulkanik. Beberapa di antaranya, seperti sulfur dioksida (SO₂), hidrogen sulfida (H₂S), nitrogen dioksida (NO₂), karbon monoksida (CO), dan amonia (NH₃).
Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan terutama berkaitan dengan sistem pernapasan, mata, dan kulit. WHO menyebut erupsi gunung api dapat menyebabkan penyakit pernapasan akut maupun kronis akibat paparan abu dan gas, serta menyebabkan iritasi mata dan kulit.
Gangguan pernapasan akibat abu vulkanik dipengaruhi oleh konsentrasi partikel di udara, jumlah partikel yang terhirup, lama paparan, kondisi meteorologi, serta faktor individu. Beberapa gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat terpapar abu vulkanik tim redaksi lain sebagai berikut.
Partikel abu yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Pada paparan tinggi, seseorang yang sebelumnya sehat dapat mengalami rasa tidak nyaman di dada, batuk, dan iritasi. Gejala jangka pendek lainnya dapat berupa iritasi hidung dan tenggorokan, pilek, batuk kering, serta rasa tidak nyaman bernapas.
Abu vulkanik dapat memperburuk gejala pada orang yang sudah memiliki gangguan pernapasan, termasuk asma. Paparan partikel halus dapat menyebabkan batuk, mengi, dan sesak napas.
CDC (Centers for Disease Control and Prevention) atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit juga memasukkan penderita asma sebagai salah satu kelompok yang lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan ketika terpapar abu dan gas vulkanik.