NADIKABAR.COM β€” Pernah membayangkan mempunyai pekerjaan impian, bertemu idola, mempunyai mobil mewah, atau memiliki kehidupan yang selama ini dicita-citakan? Menariknya, ada sebuah konsep yang percaya bahwa apa yang sering dipikirkan bisa terwujud.

Konsep ini dikenal sebagai law of attraction (LOA) atau hukum tarik menarik. Menurut konsep ini, berpikir positif bisa menarik hal-hal baik ke dalam kehidupan. Namun, apakah benar konsep ini bisa membuat keinginan terwujud menjadi kenyataan? Dan bagaimana cara kerjanya?

LOA merupakan konsep yang percaya bahwa pikiran dan perilaku seseorang bisa memengaruhi hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Konsep ini dikenal luas melalui buku β€œThe Secret” karya Rhonda Byrne.

LOA mengajarkan tentang pentingnya membangun pikiran positif. Beberapa penelitian juga mengaitkan pola pikir positif dengan kesehatan fisik seperti memiliki usia lebih panjang dan menurunkan risiko penyakit jantung.

Bukan hanya itu saja, menanamkan growth mindset juga baik untuk kesehatan mental. Efeknya akan membuat seseorang mengelola stres lebih baik, menurunkan risiko depresi, dan membantu menghadapi rasa cemas.

Banyak orang percaya bahwa LOA merupakan hukum universal yang membuat sesuatu menarik hal serupa. Pikiran positif akan mendatangkan hal positif atau hasil yang baik. Begitu juga sebaliknya, pikiran negatif akan membawa hal-hal buruk dalam kehidupan.

Kepercayaan terhadap LOA bukan hanya sebatas itu saja. Para penganutnya juga meyakini bahwa apapun yang terus-menerus dipikirkan bisa terwujud dalam kehidupan nyata. Misalnya, orang yang sering membayangkan punya mobil Ferrari merah akan mendapatkannya suatu saat.

Bagi para penganutnya, LOA adalah keyakinan kuat yang sulit untuk diragukan meskipun belum ada bukti ilmiah yang membuktikan efek ajaib dari konsep ini. Namun, bagi yang baru mengetahui LOA mungkin akan berpikir konsep ini tidak masuk akal.

LOA bekerja dengan dua hal, yaitu melalui pola pikir dan tindakan. Seseorang dipercaya bisa menarik hal-hal yang diinginkan dengan memusatkan pikiran pada tujuan tersebut. Namun, memikirkan apa yang diinginkan saja belum cukup, perlu ada tindakan nyata untuk meraihnya.

Konsep LOA mempercayai bahwa hal-hal yang mirip akan saling menarik. Seseorang diyakini akan bertemu dengan orang yang juga memiliki sifat atau cara berpikir yang sama dengan mereka. Sama halnya dengan pikiran, pikiran positif akan mendatangkan hal baik dan pikiran negatif akan membawa hal buruk.

Terus berpikir positif bisa meraih apa yang kita inginkan adalah hal yang baik. Namun, keinginan itu juga perlu diwujudkan dengan usaha atau tindakan nyata. Seseorang perlu berusaha sebaik mungkin untuk setiap hal yang dilakukan.

Saat melakukan LOA, seseorang perlu mempunyai tujuan, berusaha, dan mengenali potensi dirinya agar kesehatan mentalnya tetap terjaga. Berpikir positif juga bisa mengubah sudut panjang menjadi lebih baik yang membuat seseorang lebih percaya diri untuk menjalaninya.

Mengutip Healthline, berpikir positif dan membayangkan impian memang bisa membuat seseorang termotivasi, tetapi menerapkan LOA juga bisa berdampak negatif. Melakukannya bisa mendorong timbulnya toxic positivity.

Sejumlah orang berpikir bahwa untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka harus selalu berpikir positif dalam segala situasi. Padahal, melakukan hal ini justru bisa menekan emosi negatif yang seharusnya diakui.

Merasakan emosi negatif sebenarnya adalah hal yang normal. Justru, kalau terus diabaikan bisa membuat kesehatan mental terganggu. Maka dari itu, sebaiknya sebelum menerapkan LOA, akui dan pahami perasaan tersebut sebelum mengatasinya.