NADIKABAR.COM — Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meningkatkan upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali perundingan yang terhenti demi mengakhiri perang Rusia di Ukraina.
Washington meningkatkan tekanan terhadap Kyiv dan negara-negara mitranya di Eropa, sembari berupaya membawa Moskow kembali ke meja perundingan melalui serangkaian konsesi. Langkah tersebut mencakup kesepakatan terkait ekspor solar Rusia ke AS dan pelonggaran sementara sejumlah sanksi.
Namun, Rusia tampaknya tidak terburu-buru melanjutkan perundingan damai yang substantif. Setelah pertemuan antara utusan khusus AS Steve Witkoff dan Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada 21 Oktober, Rusia menyebut siap menggelar perundingan tingkat teknis dengan Ukraina bulan depan.
Penasihat Putin, Yury Ushakov, mengatakan setelah pertemuan itu bahwa Putin telah menyetujui dimulainya kembali perundingan damai yang dimediasi Washington setelah 10 November. Ia menambahkan, putaran perundingan berikutnya dapat berlangsung di Abu Dhabi dan akan berfokus pada "membangun sistem keamanan bagi Rusia dan Ukraina setelah perang berakhir."
Menurut Ushakov, Putin juga menyampaikan sejumlah pandangannya kepada Witkoff mengenai kemungkinan pertemuan trilateral yang melibatkan Trump dan Presiden China Xi Jinping. Ushakov menyebut Beijing sudah mempersiapkan pertemuan tersebut.
Moskow mengusulkan pertemuan tiga pihak di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC), yang dijadwalkan berlangsung pada 18–19 November di Shenzhen, China. Hal itu dilaporkan The Wall Street Journal (WSJ) awal pekan ini. Menurut sumber-sumber WSJ, Putin berharap dapat mencapai kesepakatan dengan Trump dan Xi untuk mengakhiri perang di Ukraina dengan persyaratan yang menguntungkan Rusia.
Usulan Moskow untuk menggelar pertemuan antara Rusia, AS, dan China, tanpa melibatkan Ukraina maupun Uni Eropa, memberikan gambaran mengenai format perundingan yang diinginkan. Rusia bersikeras bahwa Ukraina harus bersedia memberikan konsesi wilayah sebelum perundingan dapat dilanjutkan. Putin juga berulang kali menegaskan bahwa ia hanya bersedia berunding jika kepentingan Rusia diperhitungkan.
Menurut WSJ, Putin memandang pertemuan yang diusulkan di Shenzhen sebagai kemungkinan Konferensi Yalta baru. Istilah ini merujuk pada pertemuan para pemimpin AS, Inggris, dan Uni Soviet pada 1945 untuk membahas kekalahan Nazi Jerman dan tatanan Eropa setelah perang.
Surat kabar tersebut melaporkan bahwa para pejabat China telah menyampaikan melalui jalur diplomatik bahwa Beijing tidak keberatan dengan format pertemuan tiga pihak jika Trump bersedia hadir. Trump, yang hubungannya dengan Kyiv memburuk secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir, juga menyatakan keterbukaannya terhadap perundingan tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menegaskan saat berkunjung ke Oslo pada 20 Oktober bahwa dialog mengenai masa depan negaranya hanya dapat diterima jika Ukraina turut duduk di meja perundingan.
Temur Umarov, peneliti Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin yang berfokus pada hubungan China-Rusia, tidak terkejut dengan usulan Kremlin tersebut. Kepada DW, ia mengatakan Moskow ingin merasa dihormati Washington dan diperlakukan sebagai kekuatan besar dalam politik internasional.
Pemerintahan AS sebelumnya tidak bersedia membahas persoalan yang menyangkut kedaulatan Ukraina dengan Rusia tanpa kehadiran Kyiv. Namun, menurut Umarov, Rusia kini meyakini bahwa perundingan semacam itu mungkin dapat dilakukan.
Moskow tampaknya berharap kesepakatan apa pun yang dicapai dalam pertemuan tersebut akan mendorong Gedung Putih menekan Ukraina dan Uni Eropa agar menerima persyaratan Rusia. Namun, apa sebenarnya peran China dalam perundingan itu?