Menurut penilaiannya, pendekatan China menunjukkan bahwa Beijing tidak menganggap Ukraina sebagai pihak independen dalam perundingan dan memandang Eropa relatif lemah.
Namun, Kimmage berpendapat bahwa tidak dilibatkannya Eropa dalam KTT belum tentu mengurangi pengaruh kawasan tersebut terhadap jalannya perundingan.
Ia mengakui bahwa pemerintah negara-negara Eropa mungkin memiliki kemampuan terbatas untuk mencegah pertemuan antara Trump, Putin, dan Xi. Namun, ia menunjuk pada upaya diplomatik Eropa menjelang KTT Trump-Putin di Alaska pada 2025, yang menurutnya turut membantu mencegah hasil perundingan yang dapat merugikan Eropa.
Kimmage mengatakan pengaruh Eropa telah meningkat melalui bantuan keuangan kepada Ukraina dan kerja sama industri pertahanan yang luas, terutama dengan melibatkan Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.
Menurutnya, dukungan Eropa memainkan peran penting dalam kemampuan Ukraina menahan kemajuan pasukan Rusia. "Dan dukungan itu berarti daya tawar," kata Kimmage.
Ia meyakini Rusia, China, dan AS mungkin sama-sama berkepentingan menggambarkan Eropa sebagai kekuatan sekunder. Namun, gambaran semacam itu akan mengabaikan pengaruh nyata Eropa.
"Penampilan dan kenyataannya tidak sepenuhnya sama," katanya, seraya membedakan antara kesan diplomasi negara-negara besar yang menyerupai Konferensi Yalta dan peran Eropa dalam mendukung Ukraina.
Umarov menawarkan sudut pandang lain.
Ia meyakini bahwa kesepakatan diplomatik apa pun antara AS, Rusia, dan China tetap harus berhadapan dengan kenyataan di lapangan.
"China memahami bahwa apa pun hasil perundingan dengan Amerika Serikat dan Rusia, kenyataan di lapangan akan sangat berbeda dan terutama bergantung pada Ukraina," katanya.
"Suka atau tidak suka, Kremlin harus menerima bahwa Ukraina memiliki kemampuan untuk menentukan tindakannya sendiri. Baik Amerika Serikat maupun negara-negara Barat tidak dapat sepenuhnya menentukan apa yang terjadi di medan perang hanya melalui tekanan diplomatik."
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Rusia