Umarov menilai Beijing kemungkinan besar hanya akan berpartisipasi sebagai mitra simbolis, bukan sebagai mediator aktif yang bertanggung jawab atas hasil perundingan. "Beijing tidak berniat mengambil tanggung jawab atas masa depan Ukraina," katanya.
Kehadiran China dalam KTT tersebut tidak akan menimbulkan kewajiban tambahan bagi China. "Tidak mengherankan jika Kremlin bersikeras menggunakan format ini," jelas Umarov. "Rusia ingin menunjukkan bahwa posisinya setara, bukan hanya dengan Amerika Serikat, tetapi juga dengan China. Namun, secara objektif, Moskow bukanlah mitra yang lebih dominan dalam hubungan tersebut."
Umarov meyakini China tidak memiliki banyak kepentingan langsung dalam perundingan semacam ini. Bahkan jika para pemimpin mengeluarkan pernyataan bersama, Beijing akan berupaya menggunakan bahasa yang sesamar mungkin dan tidak mengikat, katanya. Dengan begitu, China dapat menggambarkan hampir semua perkembangan perang berikutnya sebagai sesuatu yang sejalan dengan kesepahaman yang dicapai dalam KTT. Menurut Umarov, fleksibilitas semacam ini akan menjadi syarat penting bagi keterlibatan Beijing.
Namun, Yurii Poita, peneliti senior di Mercator Institute for China Studies (MERICS), memiliki penilaian berbeda. Ia meyakini China dan Rusia memiliki kepentingan strategis yang saling beririsan, terutama dalam upaya membangun arsitektur keamanan alternatif di seluruh Eurasia.
Menurutnya, kedua negara akan diuntungkan jika kehadiran militer Barat di Eropa dan Asia berkurang serta pengaruh NATO melemah. "Jika Rusia dan China berhasil meyakinkan Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran militernya di Eropa dan bantuan militer kepada Ukraina, Rusia akan memperoleh keuntungan tambahan di medan perang," kata Poita kepada DW.
Ia menambahkan bahwa perkembangan semacam itu juga akan semakin melemahkan kepercayaan Uni Eropa terhadap AS sebagai sekutu NATO. Poita meyakini Moskow dan Beijing akan berupaya mencapai hasil tersebut dalam setiap perundingan dengan Washington.
Michael Kimmage, direktur Kennan Institute di Amerika Serikat, juga meragukan bahwa Beijing sedang bersiap mengambil peran diplomatik yang lebih aktif untuk mengakhiri perang.
Kepada DW, Kimmage mengatakan China mungkin memandang konflik tersebut sebagai sumber ketidakstabilan dan ingin mempertahankan hubungan dagang dengan Ukraina serta negara-negara lain di kawasan itu. Namun, ia menilai ada prioritas lain yang lebih penting daripada kekhawatiran tersebut.
"Yang lebih penting bagi China adalah keberlangsungan kekuasaan politik Vladimir Putin," katanya.
Menurut Kimmage, Rusia memberikan sejumlah keuntungan geopolitik bagi China, termasuk pasokan energi berbiaya rendah dan mitra kebijakan luar negeri yang jarang menghalangi kepentingan Beijing.
Ia meyakini China akan terus memberikan dukungan tidak langsung terhadap upaya militer Rusia untuk mencegah kekalahan Moskow. Kemenangan mutlak Rusia belum tentu menjadi tujuan Beijing, katanya, tetapi memastikan Putin tidak kalah merupakan hal yang sangat penting. Karena itu, Kimmage tidak memperkirakan China akan menekan presiden Rusia untuk mengakhiri perang jika Putin sendiri tidak bersedia melakukannya.
Baik Ukraina maupun Uni Eropa tidak akan dilibatkan dalam usulan perundingan di China.
Kateryna Krasina, peneliti junior di New Geopolitics Network yang berbasis di Kyiv, meyakini bahwa pengecualian tersebut dapat memperlihatkan bagaimana Beijing sebenarnya memandang pengaruh internasional kedua pihak.