NADIKABAR.COM — Mi instan menjadi salah satu makanan yang praktis dan mudah ditemukan. Tinggal direbus beberapa menit, tambahkan bumbu, lalu mi siap disantap.

Namun, di balik kepraktisannya, muncul pertanyaan lain, sebenarnya apa yang terjadi pada usus setelah seseorang makan mi instan?

Usus memiliki peran penting dalam sistem pencernaan. Setelah makanan melewati lambung, usus halus melanjutkan proses pencernaan sekaligus menyerap sebagian besar zat gizi. Sementara itu, usus besar berperan menyerap air dan membentuk feses.

Karena itu, jenis makanan yang dikonsumsi, termasuk seberapa banyak serat di dalamnya, dapat memengaruhi kerja saluran pencernaan.

Ada anggapan kalau mi instan bisa menempel di dinding usus atau meninggalkan sisa yang sulit dikeluarkan tubuh.

Mi instan tetap diproses melalui sistem pencernaan seperti makanan lainnya. Setelah melewati lambung, komponen makanan masuk ke usus halus untuk dicerna dan diserap. Sisa yang tidak diserap kemudian bergerak menuju usus besar dan pada akhirnya dikeluarkan sebagai feses.

Jadi, tidak ada proses mi instan yang kemudian "menempel" di usus selama berhari-hari.

Yang lebih penting justru adalah komposisi makanan tersebut dan pola makan secara keseluruhan.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika membicarakan mi instan dan kerja usus adalah kandungan serat.

Serat tidak dicerna seperti karbohidrat, protein atau lemak. Sebagian jenis serat dapat membantu menambah volume feses dan membuatnya lebih mudah melewati saluran pencernaan.

Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), konsumsi makanan dengan serat yang cukup serta minum cairan yang memadai dapat membantu mencegah dan meredakan sembelit. Sebaliknya, makanan yang sedikit atau hampir tidak mengandung serat dapat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan pada orang yang mengalami konstipasi.