Akibatnya, cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam kolom air jadi berkurang. Kondisi ini bisa mengganggu proses fotosintesis organisme laut.
Di perairan, material abu vulkanik dapat menyebar dan mengencer, sehingga dampaknya pada ekosistem laut juga berubah. Agus menjelaskan, penyebaran dan pengenceran abu vulkanik tersebut juga dipengaruhi kondisi fisik perairan, seperti adanya gelombang, arus, dan pasang surut, yang membantu abu vulkanik teraduk di laut.
Guru besar IPB yang ikut terlibat dalam penelitian bawah laut kerja sama Indonesia dan China, Cinodex ini mengatakan, dasar laut di sekitar pulau-pulau yang dekat dengan kawah Anak Krakatau cenderung tertutup material kasar, seperti pasir, kerikil, dan sisa longsoran material vulkanik. Karakter ekosistem tersebut relatif lebih sederhana dan ekstrem.
Sementara itu, wilayah yang lebih jauh dari kawah Anak Krakatau, terutama di bagian utara perairan, memiliki lapisan sedimen yang lebih banyak didominasi lumpur tebal. Kondisi ini justru area ini dihuni makhluk hidup dasar perairan atau organisme bentik yang relatif lebih tinggi.
Prof Setyo Budi Susilo dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University mengatakan, abu vulkanik halus yang terbawa ke perairan tidak sepenuhnya memberikan dampak lingkungan yang buruk karena memiliki manfaat ekologis.
"Material tersebut mengandung sejumlah mikronutrien, termasuk silika dan besi," kata Setyo.
Ia menjelaskan, unsur-unsur pembentuk abu vulkanik tersebut dapat memperkaya ekosistem laut dan mendukung proses fotosintesis setelah mengalami pengadukan oleh arus, gelombang, dan pasang surut.