"Dengan demikian, abu vulkanik tidak selalu menjadi ancaman bagi ekosistem laut," ucapnya.
Menurut Setyo, ikan juga secara alami bergerak menuju perairan yang lebih aman saat terjadi semburan dan hujan abu vulkanik. Ia menjelaskan, ikan akan menyebar karena pengaruh perubahan kondisi lingkungan, termasuk peningkatan suhu dan kekeruhan perairan.
"Ikan dapat bergerak menuju wilayah yang lebih jauh dari sumber erupsi, termasuk ke arah perairan Samudera Hindia maupun Laut Jawa, bergantung pada kondisi oseanografi dan lingkungan saat erupsi berlangsung," terangnya.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Henry Munandar Manik mengatakan, saat ini ada teknologi akustik yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi sumber daya dan lingkungan lautan, termasuk untuk memetakan distribusi abu vulkanik secara vertikal dan horizontal di dalam kolom air.
Teknologi tersebut juga dapat difungsikan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan material vulkanik sampai mengendap (settling time). Penggunanya juga bisa memantau kondisi ekosistem laut setelah erupsi.
Dengan menggunakan teknologi akustik tersebut, Henry berharap hasil riset kemudian bisa memberikan gambaran ilmiah sebaran material vulkanik dan dampaknya terhadap ekosistem dan sumber daya laut di sekitar kawasan Anak Krakatau.
"Pemantauan juga akan mencakup tutupan terumbu karang dan lamun serta potensi bioakumulasi material tertentu pada organisme laut," ucapnya.