NADIKABAR.COM — Bahasa isyarat menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Tuli untuk berkomunikasi dan berinteraksi. Meski sama-sama menggunakan gerakan tangan, ekspresi wajah, dan gerakan tubuh, bahasa isyarat yang digunakan tidak serta-merta memiliki bentuk dan makna yang sama di seluruh dunia.
Lantas, apakah bahasa isyarat sebenarnya sama di setiap negara?
World Federation of the Deaf (WFD) menjelaskan bahwa bahasa isyarat tidak bersifat universal. Setiap bahasa isyarat memiliki karakteristik, budaya, serta aturan tersendiri dan dapat berbeda antara satu negara dengan negara lainnya, bahkan antara satu wilayah dengan wilayah lain.
Bahasa isyarat berbeda di setiap negara
Bahasa isyarat merupakan bahasa alami yang memiliki struktur linguistik sendiri. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat masyarakat Tuli di dunia secara kolektif menggunakan lebih dari 300 bahasa isyarat yang berbeda.
Sama seperti bahasa lisan, bahasa isyarat berkembang dalam lingkungan masyarakat dan budaya tertentu. Karena itu, sebuah isyarat yang memiliki arti tertentu di satu negara belum tentu memiliki arti yang sama di negara lain.
WFD menyebut terdapat lebih dari 200 bahasa isyarat nasional di berbagai negara. Namun, tidak seluruh bahasa isyarat nasional tersebut telah memperoleh pengakuan hukum. Berdasarkan data WFD yang diperbarui pada Juni 2026, sekitar 58 persen negara di dunia belum memberikan pengakuan hukum terhadap bahasa isyarat nasional mereka.
Mengapa bahasa isyarat bisa berbeda?
1. Berkembang secara alami di komunitas
Bahasa isyarat berkembang di tengah komunitas penggunanya. Proses tersebut membuat setiap komunitas dapat membentuk kosakata, tata bahasa, dan cara penyampaian pesan yang berbeda.
Perbedaan tersebut juga dapat ditemukan dalam satu negara. WFD menjelaskan bahasa isyarat dapat berbeda bukan hanya antarnegara, tetapi juga dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Budaya masyarakat turut memengaruhi perkembangan bahasa isyarat. Gerakan tertentu dapat memiliki makna yang berbeda ketika digunakan dalam lingkungan budaya yang berbeda.
Karena itu, bahasa isyarat tidak dapat dipahami hanya sebagai terjemahan satu per satu dari bahasa lisan ke dalam gerakan tangan. Bahasa isyarat memiliki sistem dan struktur tersendiri.
Bahasa isyarat merupakan bahasa yang utuh dengan struktur linguistik tersendiri. PBB menegaskan bahasa isyarat berbeda secara struktural dari bahasa lisan.
Artinya, orang yang menguasai satu bahasa isyarat belum tentu secara otomatis memahami bahasa isyarat yang digunakan di negara lain.
Bagaimana dengan bahasa isyarat di Indonesia?
Indonesia mengenal beberapa bentuk komunikasi berbasis isyarat, di antaranya Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia atau SIBI.
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjelaskan BISINDO berkembang secara alamiah di komunitas Tuli. Penggunaannya juga memiliki variasi gerakan di sejumlah daerah yang dipengaruhi budaya Tuli setempat.
Sementara itu, SIBI merupakan sistem isyarat yang disusun untuk menyesuaikan bahasa isyarat dengan struktur bahasa Indonesia, terutama dalam konteks pendidikan formal. SIBI memiliki tata aturan yang sistematis untuk merepresentasikan kosakata bahasa Indonesia.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa variasi bahasa isyarat juga terdapat di dalam satu negara. Dengan demikian, penggunaan istilah bahasa isyarat Indonesia tidak berarti seluruh masyarakat Tuli di setiap daerah menggunakan gerakan yang persis sama.
Apakah ada bahasa isyarat internasional?
Meski tidak ada satu bahasa isyarat yang digunakan secara universal, terdapat istilah International Sign yang digunakan dalam situasi tertentu.
PBB menjelaskan International Sign digunakan masyarakat Tuli dalam pertemuan internasional maupun ketika bepergian dan berinteraksi dengan pengguna bahasa isyarat dari negara berbeda. Namun, International Sign bukan bahasa alami yang menggantikan seluruh bahasa isyarat nasional. PBB menyebutnya sebagai bentuk pidgin yang memiliki kosakata lebih terbatas dan struktur yang tidak serumit bahasa isyarat alami.
Karena itu, anggapan bahwa seluruh masyarakat Tuli di dunia menggunakan satu bahasa isyarat yang sama merupakan pemahaman yang kurang tepat.
Berapa banyak bahasa isyarat di dunia?
Jumlah bahasa isyarat di dunia tidak hanya satu atau beberapa bahasa. PBB mencatat terdapat lebih dari 300 bahasa isyarat yang digunakan secara kolektif oleh masyarakat Tuli di berbagai negara.
Sementara itu, WFD mencatat terdapat lebih dari 200 bahasa isyarat nasional. Perbedaan angka tersebut berkaitan dengan cara pendataan dan klasifikasi bahasa isyarat yang digunakan oleh masing-masing lembaga.
Dengan demikian, bahasa isyarat tidak sama di setiap negara. Bahasa tersebut berkembang sesuai sejarah, komunitas, budaya, dan lingkungan pengguna. Bahkan dalam satu negara dapat ditemukan variasi bahasa isyarat antarwilayah.
Memahami perbedaan tersebut penting agar bahasa isyarat tidak dipandang sekadar sebagai kumpulan gerakan tangan. Bahasa isyarat merupakan bagian dari bahasa, identitas, dan budaya masyarakat Tuli yang memiliki struktur serta karakteristik tersendiri.