NADIKABAR.COM — Para pejabat di Teheran harus bersiap menghadapi serangan baru menyusul laporan media bahwa AS dan Israel tengah menelaah opsi baru untuk meningkatkan eskalasi perang melawan Iran.
Pemilu sela AS yang akan diselenggarakan 3 November dan pemilu Israel pada 27 Oktober turut menyoroti faktor politik kedua negara dalam menangani konflik pada akhir Februari 2026.
Jajak pendapat menunjukkan bahwa tingginya harga energi yang dipicu oleh perang Iran telah merugikan Partai Republik pimpinan Donald Trump. Pada 8 Oktober, presiden mengunggah di media sosial bahwa Amerika Serikat tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela, dengan alasan "diskusi produktif" dengan Teheran. Awal September lalu, AS terakhir kalinya melancarkan serangan atas Iran.
Namun, setelah pemilu usai, Trump mungkin merasa tidak lagi terbatas secara politik.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu turut berkampanye tentang perubahan rezim di Iran.
Mengutip pejabat senior AS, New York Times melaporkan pada Rabu bahwa Amerika Serikat dan Israel telah "menyusun rencana spesifik" untuk sebuah "operasi singkat namun intensif" di Iran yang akan mencakup sasaran-sasaran seperti fasilitas nuklir, infrastruktur energi, serta persenjataan rudal dan pesawat nirawak negara tersebut.
Seorang pejabat mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk memaksa Iran melakukan kompromi diplomatik dengan melemahkan ekonominya, di tengah mandeknya perundingan mengakhiri konflik.l. Amerika Serikat juga tetap memberlakukan blokade terhadap ekspor minyak Iran di Selat Hormuz yang telah menguras pendapatan minyak Teheran.
Media lain telah melaporkan rencana serupa dalam beberapa pekan terakhir. Pada awal Oktober, Axios melaporkan bahwa Pentagon telah menginstruksikan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk menyelesaikan persiapan guna melanjutkan operasi tempur besar-besaran di Iran.
Saat ini terdapat dua kapal induk AS di Laut Arab, kapal induk ketiga diperkirakan tiba pada akhir November.
Pada 15 Oktober, Trump mengatakan kepada stasiun televisi sayap kanan Newsmax bahwa dirinya sedang mempertimbangkan penyerangan ke Gunung Pickaxe dekat kompleks nuklir Natanz, tempat yang diduga pejabat AS sebagai fasilitas pengayaan uranium.
Sehari kemudian, NadiKabar melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan penggunaan bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) untuk menyasar target-target di Iran. Karena MOAB menghasilkan gelombang ledakan yang sangat besar di permukaan tanah, efektivitasnya menyerang fasilitas bawah tanah seperti Gunung Pickaxe akan terbatas.
Pejabat-pejabat Iran menyatakan bahwa mereka siap menghadapi serangan, akan merespon luas termasuk menyerang pangkalan-pangkalan AS dan fasilitas energi di Teluk.