Pembicaraan terus menemui hambatan terkait program nuklir Iran, yang menurut pejabat AS harus menjadi prioritas utama dalam agenda.
Usulan terbaru Iran kepada Amerika Serikat, yang dikirim melalui mediator Qatar, mencakup tawaran untuk membuka kembali Selat Hormuz di bawah kendali Iran, sebagai imbalan atas pencabutan blokade maritim AS, pembebasan aset yang dibekukan, dan penghentian aksi militer.
Mengutip data dari pelacak kapal Kpler, Wall Street Journal melaporkan bahwa pekan ini pengangkutan minyak melalui Selat Hormuz mendekati level sebelum perang karena militer AS mengawal kapal tanker dan perusahaan pelayaran lebih bersedia mengambil risiko demi keuntungan yang lebih besar. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah pengaruh Iran atas arus pengangkutan minyak sedang melemah.
Eskalasi dalam konfrontasi ini terjadi di tengah tekanan ekonomi yang parah dan polarisasi politik yang kian meningkat bagi warga Iran.
Seorang dokter di Teheran mengungkapkan kekhawatirannya kepada DW jika pertempuran kembali berkobar. Berbicara kepada media di Iran dianggap berbahaya, sehingga ia bersedia menyampaikan pendapatnya dengan identitas anonim.
"Situasi ekonomi menjadi sangat buruk," katanya. "Bahkan jika Anda sendiri memiliki penghasilan yang baik, Anda tidak akan merasa nyaman hidup di tengah begitu banyak orang yang berjuang melawan kemiskinan," tambahnya.
Ia memperkirakan bahwa pihak berwenang akan membatasi akses internet lagi jika pertempuran kembali berkobar.
Seorang perempuan di Teheran menggambarkan kemarahannya terhadap para pendukung rezim dan mengatakan bahwa perang yang dipadukan dengan protes dalam negeri dapat meningkatkan risiko terjadinya konfrontasi di jalanan.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir bawah tanah, ia mengatakan bahwa masalah tersebut terasa semakin jauh dari masalah sehari-harinya.
"Apa hubungannya fasilitas nuklir itu dengan kami?" katanya. "Fasilitas itu berada di dalam gunung."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris