Ali Asghar Shafieian, penasihat media Presiden Iran Masoud Pezeshkian, mengatakan kepada DW bahwa, meskipun AS masih memiliki keunggulan teknologi dan militer yang signifikan, strategi Teheran didasarkan pada upaya mempertahankan kendali rezim atas negara tersebut, bukan untuk menyaingi kekuatan AS.
"AS memang unggul dalam kekuatan militer dan teknologi, tetapi kekuatan Iran terletak pada cara mereka menangani krisis," kata Shafieian.
Shafieian merujuk pada bagaimana Iran melakukan penggantian cepat para pejabat senior yang tewas dalam serangan sebelumnya sebagai cara bagaimana Teheran berusaha membuat struktur politiknya lebih tangguh. Iran juga telah membangun kembali kemampuan rudal dan pesawat nirawak yang hancur selama serangan besar-besaran di minggu-minggu pertama serangan AS-Israel.
Mengutip pejabat Iran, kantor berita Reuters melaporkan pekan ini bahwa Iran sedang "Bersiap menghadapi serangan baru dari Israel dan AS, bukan bersiap untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika guna mengakhiri perang," sambil menambahkan bahwa Teheran sedang memperpanjang negosiasi untuk mencoba melemahkan Trump dalam pemilu sela AS.
Pada pemerintah-pemerintah di kawasan Telok, Iran mengumumkan bahwa pangkalan militer AS dan infrastruktur kritis dapat menjadi target sasaran jika negara-negara tetangga membantu operasi AS atau Israel. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah memperingatkan bahwa partisipasi atau kerja sama negara-negara di kawasan tersebut akan mendapat "tanggapan yang tegas dan proporsional."
"Iran siap memberikan kesempatan berdiplomasi jika kami melihat bukti kuat adanya keinginan tulus dari AS untuk membangun kepercayaan & mencapai solusi yang adil," tulis Araghchi di X pada hari Rabu. "Namun, jika AS memilih perang daripada diplomasi, hal itu pasti akan mengakibatkan kegagalan strategis yang jauh lebih besar."
Rahman Ghahremanpour, seorang analis politik yang berbasis di Teheran, mengatakan kepada DW bahwa persiapan Iran tidak hanya terbatas pada rudal dan pesawat nirawak, tetapi juga persiapan keamanan dalam negeri.
Termasuk menghadapi kelompok-kelompok oposisi bersenjata, menghadapi kemungkinan protes, menyusun rencana mencegah tekanan militer eksternal yang berpadu dengan kerusuhan dalam negeri.
Konflik lainnya, katanya, dapat memicu pembatasan internet dan mobilisasi yang lebih kuat dari para pendukung pemerintah di ruang publik.
"Dalam strategi perang asimetris pemerintah, tujuan utamanya adalah meyakinkan Amerika Serikat bahwa penggantian rezim melalui aksi militer tidak mungkin dilakukan," kata Ghahremanpour.
Ghahremanpour menambahkan bahwa beberapa faksi di dalam Iran telah mendukung kembalinya ke kesepakatan yang dinegosiasikan. Namun, ia meyakini bahwa tuntutan Washington kini dianggap begitu luas sehingga bahkan pejabat Iran yang mendukung kompromi pun kesulitan membangun dukungan domestik untuk tuntutan tersebut.
"Untuk saat ini menghadapi kebuntuan," kata Ghahremanpour. "Pejabat Iran tampaknya tidak optimis mengenai tercapainya kesepakatan."