Salah satu alasan madu dianggap lebih sehat adalah kandungan senyawa antioksidan, seperti flavonoid dan senyawa fenolik. Madu juga dapat mengandung sejumlah kecil vitamin dan mineral, bergantung pada sumber nektar serta proses pengolahannya.

Meski demikian, kandungan tersebut tidak otomatis menjadikan madu pilihan yang lebih baik untuk mengendalikan diabetes. Jumlah zat gizi tambahannya relatif kecil dibandingkan kandungan gulanya.

Madu juga tetap menyumbang kalori dan karbohidrat. Bahkan, menurut Mayo Clinic, satu sendok teh madu dapat mengandung sedikit lebih banyak karbohidrat dan kalori dibandingkan satu sendok teh gula pasir.

Oleh karena itu, label alami pada madu tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengonsumsinya secara berlebihan.

Perhatikan jumlah madu yang dikonsumsi

Penderita diabetes yang tetap ingin menikmati madu sebaiknya membatasi jumlahnya dan memasukkannya ke dalam perhitungan asupan karbohidrat harian.

Sebagai contoh, jika Anda biasa menambahkan madu ke dalam teh atau kopi, cobalah mengurangi takarannya secara bertahap. Anda juga dapat membiasakan diri menikmati minuman tanpa tambahan pemanis.