Selain jenis tehnya, jumlah kafein juga perlu diperhatikan. Menurut US Food and Drug Administration (FDA), kandungan kafein dalam teh umumnya lebih rendah dibandingkan kopi seduh.

Dalam setiap porsi 12 ons atau sekitar 340 gram, perkiraan kandungan kafeinnya adalah sebagai berikut:

Bagi kebanyakan orang, peningkatan frekuensi buang air kecil setelah minum teh bukan sesuatu yang berbahaya.

Justru, produksi urine yang teratur dapat membantu mengencerkan mineral tertentu yang berpotensi membentuk kristal di saluran kemih.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyatakan bahwa minum cukup cairan merupakan langkah terpenting untuk membantu mencegah batu ginjal.

Dengan demikian, teh tanpa banyak tambahan gula dapat menjadi salah satu pilihan minuman untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan, meski tetap tidak menggantikan kebutuhan minum air putih.

Pada orang yang memiliki fungsi ginjal normal, belum ada bukti bahwa konsumsi teh dalam jumlah sedang dapat merusak ginjal.

Sejumlah penelitian bahkan menemukan adanya kemungkinan manfaat dari kebiasaan minum teh terhadap kesehatan ginjal. Konsumsi teh disebut dapat berkaitan dengan peningkatan fungsi ginjal dan penurunan risiko penyakit ginjal kronis hingga sekitar 20 persen.

Meski begitu, penyebab pasti hubungan tersebut masih belum diketahui. Karena itu, temuan tersebut tidak berarti teh dapat digunakan sebagai obat untuk mencegah atau mengatasi penyakit ginjal.

Hal lain yang justru perlu mendapat perhatian adalah apa yang ditambahkan ke dalam teh. Teh yang semula rendah kalori dapat berubah menjadi minuman dengan kandungan gula tinggi jika dikonsumsi dengan banyak gula, sirup, atau pemanis tambahan.