Keberadaan sawit tidak memiliki rongga yang cukup untuk jalan masuk air dan udara. Ini membuat air hujan tidak dapat langsung menyerap ke tanah.

"Dia (kelapa sawit) tidak bisa menyimpan air atau mengikat air lebih baik dibandingkan dengan jenis-jenis pohon kayu. Seperti meranti, pohon pulai, atau pohon-pohon lainnya," katanya dikutip dari laman UMS.

Alih-alih bisa ditanam bersama pohon lain, sawit justru hanya dapat dibudidayakan secara monokultur. Menurut Santhyami, lahan sawit juga tidak memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah.

Hal ini berbanding terbalik dengan hutan alami yang memiliki berbagai jenis tumbuhan dan berlapis ketinggian pohonnya. Ekosistem hutan alami menjadi rumah bagi flora dan fauna.

"Ada burung yang hanya tinggal di lapisan pohon paling tinggi, ada yang di tengah, itu juga dengan mamalia dan jenis fauna lainnya," imbuhnya.

Pernyataan sawit bisa menyerap dan menyimpan karbon dengan baik adalah keliru. Sebab, hutan memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon yang jauh lebih besar dibandingkan perkebunan sawit.

Dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr Ir Lis Noer Aini, SP, M Si, menjelaskan bahwa pada kebun sawit, karbon yang tidak terserap oleh akar dan daun cenderung terlepas kembali ke atmosfer.