"Ketika karbon lepas ke udara, gas rumah kaca akan meningkat. Pemanasan global itu pada dasarnya bermula dari deforestasi yang kita lakukan sendiri," paparnya, dikutip dari laman UMY.

Lis menyebut bahwa pembukaan hutan dan lahan untuk sawit telah terbukti mempercepat rusaknya ekosistem secara luas.

"Hutan adalah sistem kehidupan, sementara sawit merupakan sistem produksi. Jika kita hanya mengejar sistem produksi tanpa menjaga sistem kehidupan, maka kerusakan lingkungan tidak terhindarkan. Padahal keduanya bisa berjalan seimbang jika aturan tata ruang dan lingkungan benar-benar ditaati," tuturnya.

Sementara itu, menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, menyamakan sawit dengan pohon-pohon di hutan adalah kesalahan yang berbahaya. Perubahan makna dinilai bisa mengacaukan definisi deforestasi.

Saat sawit diperlakukan sebagai 'pohon', maka kebun sawit akan dianggap setara dengan hutan. Bahkan akan lebih parah jika kebun sawit diklaim sebagai penghijauan.

"Akibatnya, terjadi pembenaran perubahan fungsi kawasan hutan, distorsi penilaian lingkungan dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), serta risiko deforestasi terselubung," jelas Prof Bambang, dikutip dari laman IPB.

"Penyamaan kebun sawit dengan hutan bertentangan dengan kejujuran ilmiah, mengabaikan prinsip kehati-hatian, serta merugikan kepentingan ekologis dan generasi mendatang demi keuntungan ekonomi jangka pendek," pungkasnya.