"Material gel dapat membantu proses pemadaman sekaligus menutup pori-pori gambut sehingga bara yang masih tersimpan di bawah permukaan tidak mudah kembali memicu api," paparnya.

Meski begitu, Bambang menegaskan belum mengetahui seberapa efektif bahan tepung singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Namun, tepung singkong yang kering merupakan bahan yang bisa terbakar.

Kandungan pati (kering) bahkan bisa memicu ledakan (debu). Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Processes, cassava starch dust dapat mengalami pembakaran dan ledakan debu pada kondisi tertentu, tergantung konsentrasi, dispersi partikel, dan keberadaan sumber penyalaan.

Menurutnya, apa yang dimaksud memanfaatkan tepung singkong adalah mengembangkan pati menjadi bagian dari pembentukkan hidrogel atau material lain yang sudah teruji.

Bambang menjelaskan bahwa sifat air adalah mudah mengalir dan menguap. Terlebih jika vegetasi dan permukaan tanah yang disemprot sangat panas, maka air akan menguap dengan cepat.

Sementara bahan berbentuk gel memiliki kekentalan tinggi sehingga berpotensi bertahan dan melekat lebih lama di permukaan. Air yang terkandung di dalam gel menyerap energi panas sebelum menguap sehingga temperatur bahan bakar dapat menurun.

"Konsep pemanfaatan gel dalam pengendalian kebakaran bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Penelitian Stanford University menunjukkan bahwa material berbentuk gel dapat digunakan untuk mempertahankan air maupun fire retardant pada permukaan sehingga perlindungannya terhadap api bertahan lebih lama dibandingkan material berbasis air yang cepat mengering," ungkap Bambang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mengkaji potensi tepung singkong sebagai alternatif pemadam kebakaran hutan. Dalam hal ini, pengembangan material retardan berbasis pati singkong dikombinasikan dengan senyawa fosfat untuk meningkatkan efektivitas penggunaan air dalam pengendalian kebakaran vegetasi.