Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton mengatakan bahwa penggunaan tepung atau pati singkong sebagai pemadan memiliki dasar ilmiah. Namun, faktor efektivitas hingga dampak lingkungannya perlu diuji terlebih dahulu.
"Formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungannya tetap harus divalidasi melalui pengujian laboratorium dan lapangan secara terukur," ujarnya, dikutip dari laman BRIN.
Julinton menjelaskan bahwa pati singkong memiliki struktur polisakaridanya yang kaya gugus hidroksil. Ini dapat dimodifikasi secara kimia untuk mengatur kemampuan pembentukan film, viskositas, retensi air, serta interaksinya dengan komponen retardan.
Ia menekankan bahwa pati singkong tidak digunakan sendiri, tetapi dikombinasikan dengan ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent berkonsentrasi rendah.
"Bahan ini dirancang bekerja melalui beberapa mekanisme yang saling melengkapi. Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Pati singkong termodifikasi membantu meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan lebih lama pada permukaan vegetasi, sementara wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi dengan lebih baik. APP kemudian memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas," jelasnya.
Meski begitu, BRIN menyampaikan penggunaannya di lapangan tetap dirancang sederhana dengan mencampurkan konsentrat atau bahan formulasi ke dalam tangki air sebelum penyemprotan. Untuk kebakaran berintensitas tinggi, teknologi ini belum bisa menggantikan seluruh metode pemadaman.
"CASSA-P dikembangkan terutama sebagai teknologi pendukung untuk respons awal, pengendalian penyebaran, perlindungan area strategis, dan pemadaman spot fire, yang tetap harus terintegrasi dengan personel darat dan sistem pemadaman lainnya," tulis BRIN.