Sebanyak 93 persen emisi sektor transportasi berasal dari transportasi darat, seiring ketergantungan pada bahan bakar fosil dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor.
APGLI menyiapkan sejumlah program untuk mendorong penerapan logistik hijau, termasuk edukasi dan penghitungan karbon gratis bagi perusahaan, pengembangan Green Logistic Zone, webinar, serta publikasi.
Asosiasi juga menjajaki kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan untuk mendukung penanaman pohon sebagai bagian dari upaya kompensasi karbon.
Netty menekankan perubahan dapat dimulai dari kegiatan operasional yang sudah berjalan, seperti perawatan armada secara berkala sesuai petunjuk pabrikan agar emisi yang dihasilkan tidak berlebihan.
Menurutnya, pelaku usaha perlu mulai memperhatikan aspek lingkungan dan sosial dalam menjalankan bisnis.
Meski demikian, keterbatasan biaya masih menjadi hambatan bagi perusahaan yang ingin beralih ke teknologi rendah emisi.
Netty menyoroti harga truk listrik yang dinilai masih tinggi akibat beban biaya masuk, sehingga meminta pemerintah meninjau kembali tarif impor kendaraan tersebut.
"Kalau bisa dari Kementerian Keuangan atau Kemenko Perekonomian, meninjau ulang tarif 40 persen biaya masuk truk listrik. Kami sangat terkendala dengan harga. Tetapi kami ingin berubah menjadi hijau," kata dia.
Dewan Penasehat FOLU Net Sink 2030 Kementerian Kehutanan Agus Justianto menyebut peluncuran APGLI menjadi momentum memperkuat keterlibatan dunia usaha mendukung pembangunan rendah karbon.