NADIKABAR.COM — Asosiasi Pengusaha Green Logistics Indonesia (APGLI) mendorong penerapan industri logistik hijau untuk menekan emisi melalui efisiensi energi, pengukuran karbon, teknologi rendah karbon, serta rantai pasok berkelanjutan nasional.

Ketua Umum APGLI Netty Sri Rejeki mengatakan pelaku usaha logistik perlu mulai mengukur emisi yang dihasilkan dari aktivitas pengangkutan barang, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara.

"Saya rasa untuk ke depannya, harus ada catatan emisi gas buang yang dihasilkan para pengusaha logistik dari angkutan barang baik darat, laut dan udara yang mereka lakukan," kata Netty dalam keterangannya yang diterima di Semarang, Jateng, Sabtu.

Pencatatan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah pengurangan emisi sekaligus memperbaiki efisiensi operasional perusahaan.

Transformasi menuju logistik hijau mulai diarahkan pada langkah operasional yang lebih terukur, mulai dari pencatatan emisi armada hingga efisiensi energi dan penggunaan teknologi rendah karbon.

Namun, pelaksanaannya masih menghadapi tantangan biaya investasi, akses pembiayaan, serta kesiapan industri untuk memenuhi standar keberlanjutan.

Salah satu upaya implementasi tersebut dengan pembentukan wadah bagi pengusaha logistik yang sudah memiliki perhatian terhadap pentingnya paradigma ramah lingkungan.

"Demi mewadahi hal tersebut dibentuklah Asosiasi Pengusaha Green Logistics Indonesia (APGLI) yang baru saja melaksanakan grand launching pada Kamis (29/10/2026)," ujarnya.

Urgensi transformasi tersebut tercermin dari kontribusi sektor transportasi terhadap emisi nasional. Data World Resources Institute (WRI) Indonesia menunjukkan sektor transportasi menyumbang 27 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional yang mencapai 165.788 juta ton CO2e pada 2023.