Kondisi tersebut, memicu adanya selisih harga yang cukup lebar jika dikomparasikan dengan ketetapan resmi yang dikeluarkan pemerintah provinsi untuk wilayah tersebut.
Tak hanya persoalan harga beli yang stagnan, kata Muazam, beban tambahan yang harus dihadapi oleh para pengantar buah saat melakukan transaksi di pabrik, mereka dikenakan ongkos bongkar.
"Di samping itu, sopir truk pengangkut TBS yang menjual ke pabrik juga dikenakan uang ongkos bongkar," ujarnya.
Beban biaya bongkar muat ini, lanjut dia, semakin memperkecil margin keuntungan yang diterima, baik oleh pihak armada pengangkutan maupun petani sawit mandiri yang menyewa jasa angkutan tersebut.