"Persoalan logistik Indonesia bukan semata-mata kurangnya pelabuhan atau jalan. Tantangan terbesar justru berada pada integrasi rantai pasok, kepastian waktu pengiriman, digitalisasi proses bisnis, dan sinkronisasi antarpemangku kepentingan," kata Arief.

Menurutnya, dalam sistem perdagangan global modern, keterlambatan pengiriman memiliki konsekuensi ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan biaya transportasi itu sendiri.

Industri dunia saat ini mengandalkan sistem just-in-time production, sehingga efisiensi supply chain menjadi faktor utama dalam menentukan daya saing suatu negara.

Arief menilai reformasi logistik harus diarahkan pada pembangunan ekosistem digital yang menghubungkan proses produksi, distribusi, inventori, pembiayaan, hingga perdagangan internasional dalam satu sistem yang saling terintegrasi.

Langkah tersebut mencakup digitalisasi proses kepabeanan, pertukaran data logistik nasional, pengaturan distribusi berbasis waktu hingga pengembangan pusat logistik modern.