NADIKABAR.COM — Pernahkah kamu pergi ke toko yang menjual buku-buku tua? Berbeda dengan buku baru, buku lama biasanya memiliki kertas yang telah menguning karena disimpan dalam waktu lama. Buku-buku tersebut juga memiliki aroma khas yang bisa berbeda, tergantung bahan dan bagaimana buku itu disimpan.
Nah, selain membaca bukunya, sebagian orang ternyata juga senang mencium aroma halaman-halaman buku lama tersebut. Bahkan, ada orang yang sengaja mencari buku dengan aroma tertentu karena menyukai bau khas yang muncul dari kertas tua.
Ternyata, kegemaran tersebut bukan sesuatu yang aneh. Ada penjelasan ilmiah di balik aroma khas buku lama sekaligus alasan mengapa sebagian orang begitu menyukainya.
Ahli neurologi di NCA NHS Foundation Trust sekaligus penggemar buku, Rab Nawaz Khan, MD, menjelaskan aroma buku tua dapat digambarkan seperti anggur yang memiliki notes, layers, top dan base.
"Saya akan menggambarkannya sebagai hangat, beraroma kayu, sedikit manis, berdebu, dan terkadang samar-samar seperti vanili, dengan sedikit aroma apak," kata Khan seperti dikutip dari Reader Digest.
Aroma tersebut dapat berbeda-beda tergantung pada kertas, tinta, penjilidan, kondisi penyimpanan, dan usia buku.
Kegemaran mencium aroma buku lama ternyata memiliki istilah khusus, yakni bibliosmia.
Istilah tersebut diperkenalkan pada 2014 oleh Oliver Tearle, seorang profesor bahasa Inggris. Kata bibliosmia berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu biblion (buku) dan osme (bau atau aroma). Istilah ini digunakan untuk menggambarkan rasa senang ketika mencium aroma buku lama.
Setiap orang pun dapat mendeskripsikan aroma buku tua dengan cara berbeda dan sangat rinci. Penulis buku Cheyenne Williams, misalnya, sangat memperhatikan aroma buku. Ia bahkan menciptakan aroma berbeda untuk setiap kotak yang dikirimkan kepada pembacanya.
"Awalnya, ada aroma manis kering seperti kertas yang sedikit mengingatkan saya pada jerami. Lalu akan tercium bagian yang lebih hangat yaitu vanili dan almond. Di bawah semua itu, ada aroma musk lembut dan berdebu dengan sedikit nuansa tanah," tutur penulis buku Cheyenne Williams.
Aroma buku lama ternyata dapat berkaitan erat dengan memori dan nostalgia. Dr Khan menjelaskan, aroma tertentu dapat mengingatkan seseorang pada perpustakaan, sekolah, rumah keluarga, atau suasana membaca yang tenang.
Hubungan tim redaksi aroma dan memori ini berkaitan dengan cara indra penciuman bekerja. Dibandingkan penglihatan dan pendengaran, indra penciuman memiliki jalur yang relatif langsung menuju bagian otak yang berperan dalam memproses emosi dan memori.
Itulah sebabnya sebuah aroma terkadang dapat memunculkan perasaan atau kenangan tertentu bahkan sebelum seseorang secara sadar mengenali sumber aromanya.
Selain nostalgia, komponen aroma buku juga dapat memengaruhi respons otak. Sebuah studi pencitraan otak menemukan bahwa aroma yang berkaitan dengan makanan, seperti vanila dan almond, dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak yang digerakkan oleh dopamin.
Williams mengatakan aroma vanila, almond, dan kayu juga dapat langsung mengingatkan seseorang pada makanan yang dipanggang atau suasana yang hangat. "Sementara kertas, kayu, dan musk yang lembut membuat aroma tersebut terasa khas untuk sebuah buku," tutur Williams.
Aroma khas buku lama tidak muncul begitu saja. Seiring bertambahnya usia kertas, selulosa dan lignin yang terkandung di dalamnya perlahan mengalami penguraian.
Proses tersebut menghasilkan senyawa organik volatil atau volatile organic compounds (VOC) yang kemudian terlepas ke udara dan menghasilkan aroma khas seperti dikutip dari laman Science History Institute.
Lignin menjadi salah satu sumber aroma manis yang dapat menyerupai vanila. Namun, bukan hanya lignin yang berperan. Ada sejumlah molekul lain yang ikut membentuk karakter aroma buku tua.
1. Benzaldehida memberikan aroma seperti almond dan turut menghasilkan kesan seperti kue.2. Furfural menghasilkan aroma menyerupai roti panggang. Senyawa ini juga dapat digunakan untuk membantu mengetahui kondisi atau tingkat degradasi sebuah buku berdasarkan aromanya.3. Guaiacol memberikan sedikit aroma asap atau pedas. Senyawa yang sama juga dapat ditemukan pada wiski dan asap api unggun.4. Vanillin merupakan senyawa yang juga memberikan aroma khas pada biji vanila dan berkontribusi terhadap aroma manis seperti kue pada buku lama.
Jika sama-sama tua, mengapa aroma setiap buku tidak selalu sama?
Jawabannya bukan hanya karena usia. Jenis kertas, tinta, bahan penjilidan, hingga tempat penyimpanan ikut menentukan aroma akhir sebuah buku.
Tinta, lem, kulit, dan kain yang digunakan dalam sampul juga mengalami proses penuaan masing-masing. Senyawa yang dilepaskan dari berbagai material tersebut kemudian bercampur dengan senyawa dari kertas.
Jenis kertas pun memiliki pengaruh besar. Sebagian buku dibuat menggunakan kertas berbahan bubur kayu yang mengandung lignin. Seiring waktu, lignin terurai dan menghasilkan berbagai senyawa yang berkontribusi terhadap aroma khas buku lama.
Sementara itu, ada jenis kertas yang disebut rag paper, yang dibuat dari serat kapas atau linen. Jenis kertas ini hampir tidak mengandung lignin sehingga cenderung tidak mengalami perubahan warna dan aroma dengan cara yang sama seperti kertas berbahan kayu.
Selain bahan pembuatnya, lingkungan penyimpanan juga ikut memberikan karakter pada aroma. Debu, kelembapan, dan jamur dapat membuat aroma buku berubah.Jadi, aroma sebuah buku lama sebenarnya merupakan hasil perpaduan berbagai material dan proses kimia yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Bukan hanya buku tua yang memiliki aroma khas. Buku baru juga memiliki bau yang mudah dikenali, tetapi sumbernya berbeda.
Pada buku yang baru dicetak, aroma terutama berasal dari proses produksinya. Pelarut dalam tinta, bahan kimia yang digunakan untuk mengolah atau memutihkan kertas, serta perekat dalam proses penjilidan dapat menghasilkan senyawa organik volatil atau VOC.
Berbeda dengan buku lama, buku baru biasanya melepaskan VOC dalam jumlah lebih tinggi karena bahan-bahan tersebut masih relatif baru digunakan dalam proses produksi.
Seiring waktu, aroma tersebut akan berkurang. Pada saat yang sama, proses penuaan kertas mulai menghasilkan senyawa lain yang kemudian membentuk aroma khas buku lama.
Kabar baiknya, aroma kertas tua yang bersih dan kering umumnya tidak berbahaya jika buku ditangani secara normal.
Namun, kondisi buku perlu diperhatikan. Debu dan jamur merupakan persoalan yang berbeda karena keduanya dapat menyebabkan iritasi pada hidung, mata, tenggorokan, bahkan paru-paru.
Orang yang sensitif terhadap jamur atau memiliki masalah pernapasan sebaiknya lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan buku yang lembap atau berjamur.
Tidak semua aroma buku lama merupakan aroma yang perlu dinikmati. Aroma yang hangat, manis, kering, atau sedikit seperti vanila merupakan karakter yang umum muncul dari proses penuaan buku.
Sebaliknya, aroma sangat lembap seperti ruang bawah tanah perlu diwaspadai, terutama jika disertai tanda-tanda fisik seperti pertumbuhan berbulu atau seperti bubuk pada halaman, halaman yang basah atau berubah bentuk, munculnya noda, hingga halaman yang saling menempel.
Reaksi tubuh juga bisa menjadi petunjuk. Batuk, mengi, mata gatal, atau hidung tersumbat setelah memegang buku dapat mengindikasikan adanya iritasi.
Jika menemukan buku yang menunjukkan tanda-tanda jamur, sebaiknya buku tersebut dipisahkan dari koleksi lain dan tidak sembarangan dibersihkan atau disentuh tanpa perlindungan yang memadai.
Jadi, menikmati aroma buku tua boleh saja. Selama bukunya bersih, kering, dan bebas jamur, aroma khas tersebut merupakan hasil menarik dari perpaduan bahan buku, proses kimia selama penuaan, lingkungan penyimpanan, dan memori yang tersimpan di dalam otak.
*Penulis adalah peserta program MagangHub Kemnaker di NadiKabar.com