"Jadi kalau pemerintah melihat di mana-mana ya likuiditasnya terganggu, dia akan melakukan segala cara yang halal, yang bisa dilakukan untuk memastikan ekonominya tidak terganggu. Jadi yang kita lakukan sama dengan yang Amerika lakukan. Dalam hal ini kita lakukan dulu, Amerika nyontek," katanya.
Sebagai informasi, berdasarkan laporan Reuters pada Rabu (19/8/2026), Departemen Keuangan AS mengumumkan langkah dukungan terhadap surat utang berjangka panjang untuk menahan kenaikan yield yang membuat investor global khawatir.
Langkah menggandakan nilai buyback surat utang berjangka panjang tersebut dilakukan setelah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi mendorong yield Treasury 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007. Kondisi itu terjadi di tengah kekhawatiran akan eskalasi perang AS-Israel dengan Iran dalam waktu dekat serta meningkatnya kekhawatiran terhadap memburuknya kondisi fiskal AS.