Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembicaraan tersebut berlandaskan rencana tujuh poin yang disusun Teheran pada September lalu. Rencana itu antara lain mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pengakhiran blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Teheran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu dua hari apabila Washington memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Namun, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal awal Iran. Washington juga ingin agar isu program nuklir Iran dibahas dalam perundingan, sementara Teheran menginginkan pembahasan tersebut ditunda.

Di tengah upaya diplomasi, Iran membuat pernyataan terhadap kemungkinan serangan baru dari AS dan Israel. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dilaporkan bertemu dengan jajaran pimpinan militer negara itu. Ia menyerukan agar setiap ancaman dari AS maupun Israel dibalas segera, tanpa batasan geografis.

Khamenei belum pernah muncul di hadapan publik sejak serangan awal AS dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai pemimpin tertinggi Iran. Kepala keamanan Iran, Mohsen Rezaei, juga memperingatkan bahwa serangan terhadap negaranya akan dibalas dengan "pukulan dahsyat" menggunakan persenjataan baru.

Sementara itu, Trump mengatakan dirinya telah melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, pada Sabtu (31/10). Kepada wartawan, Trump menyebut percakapan tersebut berlangsung "sangat baik". Trump mengatakan mereka membahas Iran, tapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.