NADIKABAR.COM — Pemerintahan Amerika Serikat (AS) telah menyetujui rencana penjualan paket bantuan pesawat tempur F-35 senilai US$ 24,3 miliar atau Rp 431,51 triliun (kurs Rp 17.758) kepada Arab Saudi. Penjualan ini ditujukan untuk membantu Arab Saudi menghadapi serangan milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Dalam rencana penjualan yang diumumkan pada Kamis (17/9) kemarin, paket bantuan ini mencakup penjualan 48 pesawat tempur F-35 yang diproduksi oleh Lockheed Martin, serta 49 mesin Pratt & Whitney dan suku cadang lainnya.

"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk," kata Kementerian Luar Negeri AS dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari CNBC, Sabtu (19/9/2026).

Pengumuman penjualan ini disampaikan seiring meningkatnya intensitas serangan yang dilakukan kelompok Houthi baru-baru ini terhadap Arab Saudi. Bahkan kelompok ini juga sempat melancarkan serangan darat kilat untuk menguasai Selat Bab el-Mandeb, sebuah titik strategis penting untuk jalur minyak.

Atas dasar inilah pemerintahan Presiden AS Donald Trump menegaskan kesepakatan tersebut akan secara signifikan membantu meningkatkan kemampuan Arab Saudi untuk mencegah ancaman.

Meski dalam hal ini AS menegaskan bantuan pembelian unit jet tempur itu tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan itu. Hal ini merujuk pada kebijakan AS yang sudah lama berlaku bahwa Israel harus mempertahankan keunggulan militer atas calon pesaing di Timur Tengah.

Di luar itu, Trump sempat memuji Arab Saudi dan para pemimpinnya pada Mei 2025 lalu setelah Gedung Putih melaporkan komitmen kerajaan itu untuk berinvestasi sebesar US$ 600 miliar dalam serangkaian kesepakatan dengan AS.

Di antara kesepakatan tersebut terdapat kesepakatan penjualan sektor pertahanan senilai hampir US$ 142 miliar yang menurut Gedung Putih kala itu akan menyediakan peralatan dan layanan peperangan mutakhir dari lebih dari selusin perusahaan pertahanan AS.

Lebih lanjut, Trump juga memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, telah menyambut putra mahkota tersebut di Gedung Putih pada November lalu.