NADIKABAR.COM — Salah seorang korban sandera perompak Somalia Kapten Kapal MT Hanour 25 Ashari Samadikun yang berhasil dipulangkan oleh pemerintah menyatakan, bersyukur selamat dan dapat berkumpul bersama keluarganya, namun masih trauma atas peristiwa yang dialami.
"Saya bisa pending dulu (pertimbangkan berlayar). Masih memperbaiki (perasaan), karena sampai sekarang saya belum bisa (memutuskan). Saya masih terpikirkan keluarga kru saya, terbayang-bayang kru saya, karena saya lihat dengan mata kepala (ditembak)," tutur Ashari di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis.
Ia menceritakan selama masa penyanderaan lima bulan di kapal, sejak 21 April hingga dibebaskan pada 29 September 2026, para tawanan laki-laki dapat bertahan, namun di sisi lain, pihak keluarga sangat cemas menunggu kabar baik.
"Itu yang saya sangat sedih. Semoga kita semua bisa pulang dengan selamat. Tapi Allah SWT berkehendak. Ada dua kru saya tidak bisa pulang, itu yang buat saya sampai sekarang masih terpukul," tuturnya sebagai pemimpin di kapal itu.
Ia bercerita, sebelum kokinya meninggal sempat dia dipanggil dengan menirukan ucapannya dalam bahasa Inggris diartikan ke bahasa Indonesia, kapten tolong saya (koki), jangan pergi, jangan mati, tetap kuat.
"Selama lima bulan, kami berada di atas kapal itu. Tertekan, terutama mental. Kami putus asa itu di bulan ketiga. Di bulan itu tidak ada lagi telepon, tidak ada lagi komunikasi sama sekali. Makanan sudah habis, alat generator sudah rusak semua, (peralatan) mati," ucapnya.