"Saya merasa mungkin sampai di sini hidup kami. Mungkin sampai di sini perjuangan kami. Cuma saya tidak berani bilang sama anggota. Saya yakinkan, Insyaallah kita pulang. Makanya di situ beratnya, ketika ada yang meninggal. Tapi karena kita saling menguatkan dan pasrah hanya kepada Allah," ucapnya lagi.
Mengenai dengan uang tebusan yang diminta perompak, sebut dia, awalnya 7 juta dolar Amerika. Jumlah ini sangat besar dan tidak mungkin didapatkan dengan cara cepat, mengingat kami 17 orang, tetapi para pembajak tetap bersikukuh.
"Saya sempat bertengkar, berargumen sama mereka, saya bilang itu mustahil. Saya jelaskan, kapal ini cuma muat segini minyaknya, harga minyak segini, harga kapal segini, itu tidak logis, tidak bakal ada yang bisa kau dibayar. Biar satu tahun, tiga tahun tidak bakalan dibayar," katanya menirukan.
Permintaan tersebut selanjutnya dinegosiasikan turun menjadi 4 juta dolar, sebagai penerjemah dia meyakinkan kepada perompak, permintaan itu sulit dipenuhi, kemudian diturunkan 3 juta dolar, dan turun 2 juta dolar, hingga akhirnya sampai 1,5 juta dolar.
"Alhamdulillah mereka mengerti, mereka paham. Sampai diturunkan habis 1,5 juta dolar. Tapi saya tidak tahu pihak negara mana penuhi atau tidak, karena ada dua orang dikirim. Pertama itu namanya Leslie dari Inggris bagian negosiasi masalah uang. Dan satu lainnya menyediakan medical assistance sama makanan," katanya menambahkan.