Penderitaan semakin menjadi saat mesin produksi air tawar rusak. Sempat berapa kali ganti mesin motor. "Tapi alhamdulillah, kami berdoa, kami cari jalan, Alhamdulillah ada jalan (mesin menyala)," ujarnya.
Kepada wartawan tutur Ashari di kediamannya Dusun Moncongloe, Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Sulsel, paling membuatnya sedih krunya meninggal sekitar empat bulan lalu dalam masa penyanderaan tidak pernah berkomunikasi dengan keluarganya.
Meski demikian, perompak hanya memberikan panggilan video kepadanya untuk dikirim berita ke Indonesia dan negara lain, serta memberi kabar kepada keluarganya bahwa masih hidup, sedangkan kru lainnya tidak diberikan akses panggilan telepon, maupun video kepada keluarganya.
Dalam kondisi keputusasaan selama penyanderaan, ia tetap memberikan semangat hidup kepada krunya agar tetap tenang. Semangat ini membuat seluruh kru berjumlah 17 orang itu terus bertahan.
"Semangatlah yang bisa tenangkan kami. Karena, kami pikir tebusannya bukan uang sedikit. Sempat memang tidak ada komunikasi dari pemerintah, dari NGO-nya Pakistan. Hidup kami di kapal kritis, makanan dan minuman sudah kritis."