Namun, ia menilai kemampuan atlet Indonesia untuk melewati penyisihan hingga mencapai babak gugur tetap menjadi perkembangan yang patut diapresiasi.

"Untuk di kelas kita mungkin masih berat. Cuma dari segi sistem kumpulan sampai maju ke 16 besar sudah cukup baik," ujar Firman.

Menurutnya, anggar merupakan olahraga ketangkasan yang menuntut pengalaman bertanding untuk mengasah kemampuan membaca gerakan maupun serangan lawan.

"Yang paling utama memang pengalaman. Pengalaman bertanding karena evaluasi terbaik bagi teman-teman saat pertandingan pastinya," katanya.

Persoalan pengalaman itu tidak terlepas dari terbatasnya kesempatan mengikuti kejuaraan internasional.

Firman mengungkapkan Indonesia sebenarnya mempunyai kesempatan mengikuti turnamen di Amerika Serikat dan Hungaria, tetapi tidak ambil bagian.

Padahal, keikutsertaan dalam pertandingan internasional diperlukan untuk memperoleh peringkat dunia, termasuk pada nomor beregu.

"Kemarin sebetulnya kita punya kesempatan di Amerika sama Hungaria, cuma kita enggak ikut. Dari situ ada team-nya, kita enggak ikut otomatis kan kita enggak bisa cari ranking dunianya di situ," ujar Firman.

Indonesia pun tidak menurunkan wakil pada nomor beregu di Nagoya.

Sesuai ketentuan kualifikasi, hanya tim yang tercatat dalam daftar peringkat dunia World Para Fencing hingga 15 Juli 2026 yang dapat dipertimbangkan untuk mengikuti nomor beregu Asian Para Games.

Padahal, Firman menilai nomor beregu menjadi salah satu peluang yang bisa dikembangkan Indonesia apabila para atlet mendapatkan kesempatan bertanding yang lebih banyak.

Kebutuhan menambah pengalaman internasional makin penting karena pertandingan para anggar di Nagoya juga berstatus Kejuaraan Asia sekaligus menjadi bagian awal pengumpulan poin menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.

Bagi Didit, pertemuan dengan para atlet papan atas dunia setidaknya memberikan gambaran tentang kemampuan yang masih harus ditingkatkan.

Ia mengungkapkan latihan tanding dengan lawan yang lebih kuat serta keikutsertaan dalam turnamen internasional menjadi kebutuhan penting untuk memperkecil kesenjangan tersebut.

"Yang dibutuhkan untuk bisa bersaing ya sparring, terutama sparring. Sparring-nya yang lebih tinggi lagi. Ikut turnamen, seperti tryout, juga penting," ujarnya.

Perjuangan Didit dan kawan-kawan di Nagoya belum selesai. Mereka masih dijadwalkan tampil pada nomor sabre, Jumat (23/10), dengan harapan dapat memperbaiki hasil sebelumnya.

"Target saya bisa masuk semifinal minimal," kata Didit.