NADIKABAR.COM — Skor 0-15 terpampang sebagai hasil akhir pertandingan atlet para anggar Indonesia Didit Diantoro melawan wakil Irak Zainulabdeen Al-Madhkoori di Nagoya City Inae Sports Center, Jepang, Rabu (21/10).
Tak satu pun angka berhasil dikumpulkan Didit pada babak 16 besar nomor epee kategori A putra Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 tersebut.
Lawan yang dihadapinya memang bukan atlet sembarangan. Al-Madhkoori merupakan bagian dari tim Irak yang meraih medali perak nomor epee beregu putra pada Paralimpiade Paris 2024.
Sebelum menghadapi atlet Irak itu, Didit sebenarnya mampu melewati penyisihan grup dan mengalahkan wakil Filipina Wilfredo Li Bugayong dengan skor 15-9 pada babak 32 besar.
Perbedaan kualitas mulai terasa ketika ia berhadapan dengan atlet yang memiliki pengalaman lebih panjang di panggung internasional.
"Memang sulit. Lawan memang kelas dunia dan saya berjuang keras. Banyak hal yang saya pelajari, seperti kelincahannya dalam permainan," ujar Didit seusai pertandingan.
Pengalaman tersebut membuat Didit memiliki kesan tersendiri terhadap ketatnya persaingan di pesta olahraga disabilitas terbesar di Asia itu.
"Ini Asia rasa Paralimpiade pertandingannya. Sangat seru, horor juga," katanya.
Dalam Paralimpiade Paris 2024, China mendominasi para anggar dengan mengumpulkan 10 medali emas, lima perak, dan empat perunggu. Thailand berada di posisi kedua dengan tiga emas, satu perak, dan satu perunggu.
Artinya, kedua negara Asia tersebut menguasai 13 dari 16 medali emas yang diperebutkan pada ajang olahraga disabilitas tertinggi dunia itu.
Sejumlah peraih medali Paralimpiade tersebut kembali menjadi bagian dari persaingan di Nagoya.
Salah satunya adalah Saysunee Jana, atlet Thailand yang mencetak sejarah dengan merebut tiga medali emas nomor individu pada Paralimpiade Paris 2024.
Di Nagoya, Jana justru dikalahkan wakil Korea Selatan Eunhyo Cho dengan skor tipis 14-15 pada final epee kategori B putri, Rabu.
Hasil itu memperlihatkan betapa ketatnya persaingan di antara kekuatan utama para anggar Asia, bahkan bagi atlet yang telah meraih gelar tertinggi dunia.
Bagi Indonesia, Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 sekaligus menjadi momentum kembalinya para anggar ke pesta olahraga disabilitas terbesar Asia setelah absen pada edisi sebelumnya di Hangzhou, China.
Terakhir kali Indonesia mengikuti cabang olahraga tersebut adalah pada Asian Para Games Jakarta 2018.
Ketika menjadi tuan rumah, Indonesia menurunkan 11 atlet dan berhasil membawa pulang satu medali perunggu dari nomor sabre beregu putri.
Medali tersebut dipersembahkan Elih, Sri Lestari, Survaya Dewi Ningrum, dan Suwarsih.
Pencapaian itu cukup berarti karena menjadi penampilan perdana Indonesia pada cabang anggar kursi roda di Asian Para Games.
Namun, perjalanan tersebut tidak berlanjut pada Asian Para Games Hangzhou 2022 yang baru diselenggarakan pada Oktober 2023.
Para anggar tidak termasuk dalam 12 cabang olahraga yang diikuti kontingen Merah Putih.
Delapan tahun setelah penampilan di Jakarta, Indonesia kembali menurunkan wakil pada Asian Para Games 2026.
Kali ini hanya tiga atlet yang memperkuat Merah Putih, yakni Didit Diantoro dari Jawa Tengah, Ryo Afandi dari DKI Jakarta, serta Alika Shalshabilah Lamasano dari Jawa Barat.
Ketiganya menghadapi tantangan besar untuk mengimbangi atlet-atlet yang telah terbiasa bertanding di kejuaraan dunia maupun Paralimpiade.
Bagi Didit, perbedaan tingkat persaingan tersebut cukup terasa.
Pada ASEAN Para Games di Thailand, Januari 2026, ia mampu menembus semifinal nomor epee individu kategori A putra sebelum kalah 12-15 dari wakil Malaysia Krisana Sriujun.
Namun, ketika memasuki persaingan tingkat Asia di Nagoya, ia harus menghadapi lawan dengan pengalaman lebih panjang dan prestasi lebih tinggi.
Kondisi serupa dihadapi Ryo yang masih berada dalam tahap membangun pengalaman internasional.
Atlet asal DKI Jakarta itu merupakan peraih medali emas nomor sabre individu kategori B pada Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII 2024 di Solo.
Setahun kemudian, Ryo mendapat kesempatan menghadapi atlet-atlet dunia dalam Para Fencing World Cup 2025 yang juga berlangsung di Solo.
Ia mampu mencapai babak delapan besar nomor sabre kategori B putra. Namun, pada nomor epee, Ryo masih kesulitan menghadapi persaingan internasional.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa keberhasilan di tingkat nasional belum cukup menjadi bekal untuk bersaing di panggung dunia.
Alika juga menjadi bagian dari generasi atlet yang tengah mengembangkan kemampuan untuk menghadapi persaingan internasional.
Atlet asal Jawa Barat itu telah merasakan persaingan dalam Peparnas 2024 sebelum tampil pada Para Fencing World Cup 2025 di Solo.
Pelatih para anggar Indonesia Firman Raflesio mengakui persaingan pada Asian Para Games kali ini masih cukup berat bagi anak asuhnya.
Namun, ia menilai kemampuan atlet Indonesia untuk melewati penyisihan hingga mencapai babak gugur tetap menjadi perkembangan yang patut diapresiasi.
"Untuk di kelas kita mungkin masih berat. Cuma dari segi sistem kumpulan sampai maju ke 16 besar sudah cukup baik," ujar Firman.
Menurutnya, anggar merupakan olahraga ketangkasan yang menuntut pengalaman bertanding untuk mengasah kemampuan membaca gerakan maupun serangan lawan.
"Yang paling utama memang pengalaman. Pengalaman bertanding karena evaluasi terbaik bagi teman-teman saat pertandingan pastinya," katanya.
Persoalan pengalaman itu tidak terlepas dari terbatasnya kesempatan mengikuti kejuaraan internasional.
Firman mengungkapkan Indonesia sebenarnya mempunyai kesempatan mengikuti turnamen di Amerika Serikat dan Hungaria, tetapi tidak ambil bagian.
Padahal, keikutsertaan dalam pertandingan internasional diperlukan untuk memperoleh peringkat dunia, termasuk pada nomor beregu.
"Kemarin sebetulnya kita punya kesempatan di Amerika sama Hungaria, cuma kita enggak ikut. Dari situ ada team-nya, kita enggak ikut otomatis kan kita enggak bisa cari ranking dunianya di situ," ujar Firman.
Indonesia pun tidak menurunkan wakil pada nomor beregu di Nagoya.
Sesuai ketentuan kualifikasi, hanya tim yang tercatat dalam daftar peringkat dunia World Para Fencing hingga 15 Juli 2026 yang dapat dipertimbangkan untuk mengikuti nomor beregu Asian Para Games.
Padahal, Firman menilai nomor beregu menjadi salah satu peluang yang bisa dikembangkan Indonesia apabila para atlet mendapatkan kesempatan bertanding yang lebih banyak.
Kebutuhan menambah pengalaman internasional makin penting karena pertandingan para anggar di Nagoya juga berstatus Kejuaraan Asia sekaligus menjadi bagian awal pengumpulan poin menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.
Bagi Didit, pertemuan dengan para atlet papan atas dunia setidaknya memberikan gambaran tentang kemampuan yang masih harus ditingkatkan.
Ia mengungkapkan latihan tanding dengan lawan yang lebih kuat serta keikutsertaan dalam turnamen internasional menjadi kebutuhan penting untuk memperkecil kesenjangan tersebut.
"Yang dibutuhkan untuk bisa bersaing ya sparring, terutama sparring. Sparring-nya yang lebih tinggi lagi. Ikut turnamen, seperti tryout, juga penting," ujarnya.
Perjuangan Didit dan kawan-kawan di Nagoya belum selesai. Mereka masih dijadwalkan tampil pada nomor sabre, Jumat (23/10), dengan harapan dapat memperbaiki hasil sebelumnya.
"Target saya bisa masuk semifinal minimal," kata Didit.