NADIKABAR.COM — Rumput laut telah lama menjadi sumber makanan, mata pencaharian, dan peluang ekonomi yang vital bagi banyak masyarakat pesisir.
Dari 26 hingga 28 Oktober 2026, Simposium Global tentang Kerja Sama dan Pengembangan Rumput Laut diselenggarakan di Quanzhou, Provinsi Fujian, China.
Lebih dari 80 perwakilan dari lembaga penelitian, asosiasi industri, dan pelaku industri asal China, Indonesia, Filipina, Malaysia, Chile, dan berbagai negara lainnya berkumpul di kota pelabuhan di China tenggara tersebut untuk merumuskan cara mengubah rumput laut menjadi industri yang benar-benar global.
Liu Tao, wakil ketua Asosiasi Industri Alga China yang juga memimpin simposium itu, menyampaikan produksi rumput laut global melampaui 30 juta ton dalam bobot segar setiap tahun, menyumbang lebih dari separuh total hasil budi daya laut global.
"Rumput laut tidak hanya sekadar pangan, pakan, dan bahan baku untuk ekstraksi biologis. Rumput laut juga mengandung berbagai nilai dalam penyerapan karbon laut, peningkatan pendapatan nelayan pesisir, dan revitalisasi perdesaan," papar Liu sebagaimana warta Xinhua.Yuan Xinhua, wakil direktur Divisi Perikanan dan Akuakultur Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), mengatakan dalam pidato video bahwa di tengah berbagai tantangan berat yang dihadapi dunia, seperti ketahanan pangan dan perubahan iklim, nilai rumput laut telah jauh melampaui pemanfaatan tradisionalnya, memberikan dukungan bagi jalur pembangunan yang lebih berkelanjutan dan lebih tangguh.Liu mengatakan bahwa seiring dengan terus berkembangnya budi daya, perdagangan, dan konsumsi rumput laut di dunia, industri tersebut menghadapi sejumlah tantangan bersama, yaitu pembangunan regional yang terkoordinasi, ekspansi pasar-pasar emerging, dan penanganan perubahan iklim global, serta sangat memerlukan penguatan kerja sama internasional dan praktik berbagi pengetahuan.