Dalam simposium itu, para pakar merilis "100 Pertanyaan dan Jawaban tentang Industri Rumput Laut China : Pelajaran bagi Dunia" (100 Questions and Answers on China's Seaweed Industry: Lessons for the World), yang secara sistematis mengulas kondisi industri rumput laut, pengalaman praktis, dan tantangannya.

"Kami berharap dapat mengubah pengalaman China menjadi pelajaran bagi dunia, dan juga menghadirkan permintaan internasional ke dalam pengembangan industri rumput laut China yang berkualitas tinggi," ujar Liu.

Pada kesempatan yang sama, Universitas Xiamen di China dan Universitas Mataram di Indonesia menandatangani nota kesepahaman untuk bersama-sama mendorong kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kelautan, pengembangan talenta, dan pertukaran talenta ilmiah muda antara kedua universitas.Dalam sebuah laporan bertajuk "Pengembangan Industri Rumput Laut (Hulu dan Hilir) di Indonesia Sejalan dengan Inisiatif Rumput Laut Global" (Seaweed Industry Upstream and Downstream Development in Indonesia in Conjunction with the Global Seaweed Initiative), Ketua Umum Asosiasi Rumput Laut Indonesia Muhammad Safari Azis menuturkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya rumput laut yang melimpah.

Menurut Azis, perairan Indonesia, negara pesisir tropis, menyimpan lebih dari 1.000 spesies makroalga dengan ragam yang tinggi, sehingga memberikan kondisi yang khas untuk produksi pangan akuatik.