Azis menekankan bahwa yang membedakan industri rumput laut Indonesia adalah pengembangan budi daya di sektor hulu dan pengolahan di sektor hilir secara bersamaan, alih-alih bergantung pada pengolahan semata. Indonesia telah membangun sekitar 60 pabrik pengolahan rumput laut, yang mencakup karagenan yang diolah dengan alkali, karagenan semimurni, dan karagenan murni, serta produk bioplastik.

Sekitar enam di antaranya dibangun oleh para investor asal China.

Indonesia tengah beralih dari mengekspor bahan mentah ke pengolahan di dalam negeri, ujar Azis.Indonesia, dalam kerangka inisiatif global tersebut, juga berharap dapat mengelola sistem produksinya dengan lebih baik, mencapai pasokan yang stabil, dan mengatasi tantangan volatilitas harga dan manajemen pasar. Pada saat yang sama, pasar utama produk rumput laut Indonesia masih terkonsentrasi, dan industri tersebut membutuhkan diversifikasi pasar serta kapasitas pengolahan yang lebih besar.

Dalam laporannya, Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Filipina Alfredo Pedrosa III memperkenalkan "klub rumput laut ASEAN" yang kini memiliki 11 negara anggota. Indonesia dan Filipina diwakili oleh pelaku industri, sementara anggota-anggota lainnya diwakili oleh badan pemerintah yang bertanggung jawab atas bidang perikanan dan sumber daya perairan.Negara-negara ASEAN akan memperkuat ketahanan dan keberlanjutan industri rumput laut melalui kerja sama yang sinergis, ujar Pedrosa. Dia menyambut baik partisipasi perusahaan dan lembaga penelitian asal China dalam membangun rantai nilai rumput laut ASEAN serta dalam upaya bersama mengatasi berbagai tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku.