Regulasi tersebut diarahkan untuk memastikan kegiatan usaha bioenergi berbasis kelapa sawit berjalan sesuai prinsip keberlanjutan, memiliki standar terukur, dan mendukung ketahanan serta transisi energi nasional.
Sementara itu, Astra Agro mencatat pengurangan emisi cakupan 1 dan 2 sebesar 35,69 persen pada 2025 dibandingkan dengan tahun dasar 2019.
Pada periode yang sama, penggunaan energi terbarukan perseroan mencapai 92,3 persen dan pemanfaatan limbah padat tercatat 100 persen.
“Bagi kami, kinerja dan transformasi harus berjalan bersama. Peningkatan produktivitas, efisiensi sumber daya, pengembangan sumber daya manusia, serta pengelolaan lingkungan merupakan pondasi untuk keberlanjutan bisnis,” ucap Tingning.
Dari sisi kinerja keuangan, Astra Agro membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,10 triliun pada semester I 2026, meningkat 56,5 persen dibandingkan Rp702 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan bersih perseroan tercatat Rp15,26 triliun atau tumbuh 5,6 persen dibandingkan Rp14,45 triliun pada semester I 2025. Laba per saham meningkat dari Rp365 menjadi Rp571 per saham.
Dalam materi paparan perusahaan, produksi minyak sawit mentah (CPO) pada semester I 2026 tercatat 588 ribu ton, turun 2,1 persen dibandingkan 601 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, volume penjualan CPO dan produk turunannya mencapai 898 ribu ton, meningkat 1,7 persen dibandingkan 883 ribu ton pada semester I 2025.