"Baru ketemulah kalau di tabletnya itu ada sosial media dan lalu ada informasi tentang tersangka tersebut yang kebetulan pernah kita sampaikan ke Polres Semarang kalau akun ini mencurigakan," ungkap Singgih.
"Lainnya ada pengikut dan mengikutnya, tapi kok yang ini kok satu ini kok semuanya kosong. Tidak ada pengikutnya, tidak ada mengikutnya, dan postingan kosong. Tetapi DM-nya intensif ada dengan Mozza dan terakhir DM tanggal 22 Juni 2025," imbuhnya.
Dari penelusuran pesan itu kemudian diketahui ada petunjuk soal kos di daerah Candisari Kota Semarang yang belakangan diketahui menjadi tempat tersangka, Mahendra Very Dwi Anggara (22) membunuh Mozza.
Dalam pesan di media sosial Mozza, Singgih menyebut pelaku beberapa kali mengajak putrinya main ke kos tersebut. Mozza sempat datang ke sana satu kali dan komunikasi berlanjut melalui WhatsApp.
"Mozza sering kali beberapa kali disuruh main ke kos tersebut. Mozza pertama kali kelihatannya kalau enggak salah main ke sana satu kali. Lalu dia pulang, terus intens komunikasi mungkin lewat WA," jelas Singgih.
Ajakan itu tersu dilakukan pelaku namun ditolak Mozza yang sedang mempersiapkan untuk ujian masuk universitas.
"Terus tapi yang di DM ada, Mozza berulang kali disuruh main ke kosnya. Tapi Mozza sudah menolak. Hampir dua, hampir tiga kali Mozza disuruh ke kos, tapi Mozza menolak karena pada waktu itu Mozza sedang menyiapkan ujian di Undip," terang Singgih.