"Terus tanggal 25 itu mungkin kebetulan Mozza sudah selesai ini ujiannya, makanya dia mengiyakan mau main lagi ke sana dan malah yang terjadi seperti itu (dibunuh)," ungkap Singgih.

Dalam upaya pencariannya, Singgih sempat mendatangi kos di Candisari tersebut berharap menemukan Mozza atau barang-barangnya yang bisa jadi petunjuk. Namun saat itu dia tidak menemukan apapun.

"Saya meminta keterangan dari pemilik kos. Terus saya mengecek masuk ke dalam ke kos. Saya mintai barang bukti siapa tahu ada sandal anak saya atau motor apa tuh. Ternyata waktu di sana tidak ada apa pun. Makanya saya memutuskan untuk kembali," kata Singgih.

Singgih sempat berharap bisa menemukan putrinya dalam kondisi hidup. Bahkan Singgih selalu melewati kos di Candisari itu setiap kali ia ke Semarang.

"Tapi saya tetap, kalau pas saya jalan ke Semarang, saya selalu lewat kos tersebut untuk melihat, mencari benar enggak ada motornya. Siapa tahu tiba-tiba pas saya lewat ada atau gimana. Tapi ternyata sampai penemuan ini, sampai pemeriksaan terakhir, tidak ada motor tersebut ataupun sandal ataupun anak saya di kos tersebut," ujar Singgih.

Kasus tersebut kemudian terungkap setelah pelaku berhasil dibekuk polisi di Blora. Kemudian pelaku menunjukkan lokasi dia membuang mayat Mozza.

Jenazah Mozza berhasil dievakuasi di jurang tol Jangli Semarang pada hari Jumat (4/9). Namun kondisinya sudah berupa kerangka.