Akumulasi material tersebut diduga kuat membentuk bendungan alami (natural dam) yang sempat membendung aliran air di bagian hulu hingga memicu genangan air dalam volume besar.
"Keruntuhan bendungan alami tersebut kemudian melepaskan air dan material rombakan secara mendadak dengan kecepatan dan energi tinggi menuruni lembah menuju kawasan pemukiman serta kompleks perkantoran Arosuka," kata Lana.
Kondisi tersebut menurut dia semakin diperparah oleh beda tinggi ekstrim antara daerah hulu dan hilir yang mencapai 1.325 meter, sehingga memberikan energi gravitasi yang sangat besar bagi pergerakan aliran material.
Hasil kajian geologi juga mencatat bahwa material piroklastik dan tanah pelapukan di lereng Gunung Talang yang belum terkonsolidasi dengan baik sangat mudah tererosi dan larut saat mengalami peningkatan kadar air.
Sistem aliran sungai di kawasan Arosuka yang memiliki pola konvergensi atau penggabungan beberapa anak sungai akhirnya meluap ke hilir sejauh kurang lebih 8 kilometer dari pusat hulu longsor.