NADIKABAR.COM — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) minta pembangunan sistem peringatan dini terpadu (early warning system/EWS) dan pengerjaan bangunan pengendali sedimen (sabo dam) di Solok, Sumatera Barat diprioritaskan untuk menekan risiko banjir bandang.
Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya di Jakarta, Senin, mengatakan rekomendasi tersebut mendesak diterapkan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) lereng barat Gunung Talang yang melintasi Kawasan Arosuka.
"Sistem peringatan dini yang dibangun harus terhubung dengan pemantauan curah hujan di hulu, perubahan debit air, serta potensi pembentukan sumbatan alur sungai secara real-time," kata dia.
Dia menambahkan bahwa pengembangan EWS tersebut juga perlu dilengkapi dengan penetapan ambang batas curah hujan aman serta prosedur operasional standar (SOP) evakuasi warga dan penutupan akses jalan utama saat cuaca ekstrem.
Selain EWS, Badan Geologi menekankan pentingnya intervensi teknis berupa pembangunan sabo dam di bagian hulu untuk menahan laju endapan bahan rombakan dan mengurangi energi hantam aliran material.
Namun, dia menekankan bahwa perencanaan sabo dam harus didahului oleh kajian mendalam terkait hidrologi, sedimentologi, dan geoteknik agar kapasitas tampungnya presisi terhadap potensi volume longsoran susulan.
Badan Geologi mengharapkan langkah teknis ini dapat melindungi kawasan pemukiman, kompleks perkantoran, dan jalur vital Solok-Padang dari ancaman banjir material berulang di masa mendatang, sebagaimana hasil evaluasi dari peristiwa banjir bandang 21 September lalu.
Tim penyelidik Badan Geologi melaporkan hasil evaluasinya bahwa peristiwa banjir bandang di Kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, itu dipicu oleh kombinasi hujan lebat serta penyumbatan material longsoran di wilayah hulu lereng barat Gunung Talang.
Adapun peristiwa yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang cukup masif itu diawali oleh pergerakan tanah di bagian hulu akibat curah hujan tinggi yang mengguyur sejak dua hari sebelumnya.
Material longsor berupa tanah, batuan vulkanik, dan bongkah andesit berukuran 2 hingga 3 meter masuk ke alur sungai dan terakumulasi di lokasi pertemuan dua lembah utama.
Akumulasi material tersebut diduga kuat membentuk bendungan alami (natural dam) yang sempat membendung aliran air di bagian hulu hingga memicu genangan air dalam volume besar.
"Keruntuhan bendungan alami tersebut kemudian melepaskan air dan material rombakan secara mendadak dengan kecepatan dan energi tinggi menuruni lembah menuju kawasan pemukiman serta kompleks perkantoran Arosuka," kata Lana.
Kondisi tersebut menurut dia semakin diperparah oleh beda tinggi ekstrim antara daerah hulu dan hilir yang mencapai 1.325 meter, sehingga memberikan energi gravitasi yang sangat besar bagi pergerakan aliran material.
Hasil kajian geologi juga mencatat bahwa material piroklastik dan tanah pelapukan di lereng Gunung Talang yang belum terkonsolidasi dengan baik sangat mudah tererosi dan larut saat mengalami peningkatan kadar air.
Sistem aliran sungai di kawasan Arosuka yang memiliki pola konvergensi atau penggabungan beberapa anak sungai akhirnya meluap ke hilir sejauh kurang lebih 8 kilometer dari pusat hulu longsor.