NADIKABAR.COM — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengoptimalkan pemetaan formasi akuifer salin bawah permukaan bumi sebagai solusi penyelamatan lingkungan sekaligus menekan laju emisi gas rumah kaca demi meredam ancaman krisis iklim global.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa langkah mitigasi tersebut diselaraskan secara langsung dengan komitmen Indonesia Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050) melalui penguatan ekosistem Carbon Capture and Storage (CCS) di Indonesia.

"Badan Geologi senantiasa menyelaraskan langkah dengan komitmen. Salah satu strategi penting dalam dokumen LTS-LCCR 2050 tersebut adalah pengimplementasian teknologi Carbon Capture and Storage di Indonesia," kata dia, ketika dikonfirmasi terkait target prioritas Badan Geologi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menjawab tantangan perubahan iklim.

Menurut dia, dalam misi penyelamatan lingkungan tersebut, Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi memfokuskan kerja penyelidikan pada area cekungan sedimen dan greenfield guna mencari ruang penyimpanan karbon yang aman secara geologis.

Berdasarkan hasil pemetaan dan skrining regional hingga tahun 2025, pihaknya mencatat potensi kapasitas teoretis penyimpanan CO2 mencapai kurang lebih 6.435 gigaton (Gt) CO2 yang tersebar di 41 area akuifer salin.

Adapun akuifer salin merupakan lapisan batuan bawah permukaan bumi yang mengandung air asin atau air bersalinitas tinggi dan tidak layak konsumsi, sehingga sangat potensial dan aman dimanfaatkan untuk menyimpan injeksi gas karbon dioksida.

"Secara spesifik, prioritas kerja kami dititikberatkan pada cekungan-cekungan sedimen yang belum berproduksi migas atau area frontier. Optimalisasi formasi akuifer salin atau saline aquifer sebagai media penyimpanan karbon yang berbasis survei geologi dan skrining regional," kata dia.

Dia memaparkan bahwa potensi penyimpanan dari 41 area tersebut terbesar di Pulau Kalimantan dengan kapasitas mencapai 4.824 Gt CO2e yang mencakup 12 area, seperti Bengkayang, Entikong, Tabang, hingga Puruk Cahu.

Kemudian, Pulau Jawa dengan kapasitas 1.225 Gt CO2edi 15 area yang meliputi Sragen, Banyumas, Kediri, hingga Bogor, serta Pulau Sumatera dengan potensi 386 Gt CO2e di 14 area termasuk Padang Sidempuan, hingga Muara Enim, dan Baturaja di Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

Badan Geologi siap untuk memperluas koridor pemetaan wilayah tangkapan karbon secara bertahap sebagai langkah lanjutan penyelamatan ekologis dalam jangka menengah.

Dalam hal ini, Lana menyebut bahwa pada tahun 2026, kajian lapangan difokuskan dari Bali hingga Nusa Tenggara, kemudian dilanjutkan ke wilayah Sulawesi hingga Papua pada periode 2027-2028.

"Bali hingga Nusa Tenggara pada 2026. Selanjutnya, pada tahun 2027-2028 kajian akan diperluas ke wilayah Sulawesi hingga Papua," kata dia.

Dia menekankan bahwa penyediaan basis data untuk penyimpanan CO2 ini menjadi fondasi yang kuat dalam mengakselerasi proyek CCS di Indonesia guna mencapai target penurunan emisi karbon sebagai kontribusi komitmen nasional menahan laju kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 celcius, hal ini sebagaimana yang dimandatkan dalam Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCC).