Sementara itu, Camat Karimunjawa Nuril Abdillah menyampaikan bahwa potensi yang tersebar di empat desa di wilayahnya telah melahirkan beragam produk UMKM, mulai dari olahan ikan, rumput laut, dan mangrove hingga minyak kelapa murni atau virgin coconut oil (VCO).

Nuril mengajak masyarakat memanfaatkan forum tersebut untuk menyampaikan persoalan dan harapan secara terbuka.

"Tak usah ragu-ragu, beliau-beliau ini adalah wakil-wakil panjenengan. Jadi kalau ada unek-uneknya, disampaikan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Karimunjawa Fahrul Alim menyambut baik kesempatan menyampaikan aspirasi langsung kepada MPR RI. Dia menjelaskan bahwa sejumlah persoalan masyarakat membutuhkan perhatian dan koordinasi di luar tingkat desa.

"Persoalan tersebut mencakup kepastian pengaturan sempadan pantai, pengelolaan sampah, kebijakan yang memperhatikan karakter wilayah kepulauan, serta pengembangan dan pemasaran produk unggulan," kata Fahrul.

Dalam bidang ekonomi kreatif, Fahrul menekankan bahwa kemampuan masyarakat menghasilkan produk perlu diikuti dengan tersedianya pasar. Ia berharap hotel, tempat wisata, dan jaringan penjualan dapat memberikan ruang lebih luas bagi produk lokal.

Fahrul juga mengusulkan pengembangan batik khas Karimunjawa sebagai identitas sekaligus produk ekonomi kreatif. Gagasan tersebut diharapkan dapat memperkuat promosi budaya lokal dan mendukung penghormatan terhadap kebiasaan masyarakat setempat dalam kegiatan pariwisata.

Selain itu, dia menyoroti kebutuhan pusat oleh-oleh, dukungan permodalan, digitalisasi usaha, serta pelatihan yang terhubung dengan kebutuhan produksi dan pemasaran.