Seseorang yang kecanduan akan mengalami penurunan konsentrasi yang sangat signifikan. Menurut penjelasan medis dari Maramis (1995) yang dikutip dalam studi Universitas Diponegoro, terganggunya konsentrasi ini bukan karena kemampuan berpikirnya yang berkurang, melainkan karena penderita sering memikirkan dan mengkhayalkan seks sehingga tidak berkonsentrasi untuk memikirkan hal lain. Khayalan-khayalan tersebut mengikat penderita secara mental dan menarik mereka kepada dunia yang dikhayalkannya saja.

Berdasarkan laporan ilmiah dalam The Journal of Nervous and Mental Disease yang dikutip oleh Mitra Keluarga, saat sedang stres, cemas, atau depresi, seseorang dengan PMO cenderung mencari pelarian kembali pada pornografi atau masturbasi. Hal ini memicu lingkaran setan di mana onani dijadikan mekanisme koping yang tidak sehat.

Kecanduan ini juga merusak harga diri (self-esteem) dan memicu krisis kepercayaan diri (self-confidence) yang parah karena penderita dihantui ketakutan gagal saat berhubungan seksual di masa depan atau takut tidak bisa memuaskan pasangannya.

Dampak psikososial yang paling nyata adalah kecenderungan untuk menarik diri dari pergaulan nyata (social withdrawal). Penderita cenderung lebih senang menyendiri demi menikmati konten pornografi dibanding membangun hubungan interpersonal yang sehat bersama keluarga dan teman-teman sekolah.

Secara fisik, kecanduan onani juga membawa dampak buruk jangka panjang bagi kehidupan seksual nyata bersama pasangan:

Terbiasa melakukan onani dengan tujuan agar cepat klimaks melatih sistem saraf untuk ejakulasi terlalu dini saat berhubungan seksual normal setelah menikah.

Orang yang terbiasa terangsang dengan stimulasi pornografi sering kali kesulitan ereksi saat bersama pasangan asli karena hilangnya stimulasi ekstrem tersebut.

Masturbasi yang terlalu sering atau tidak terkontrol dapat menyebabkan hilangnya kepekaan pada alat kelamin penderita.

Penggunaan alat bantu seks secara berlebihan atau kasar dapat menyebabkan luka, lecet, hingga risiko Infeksi Saluran Reproduksi (ISR).

Mengatasi adiksi ini membutuhkan pendekatan yang komprehensif, menggabungkan niat yang kuat, modifikasi perilaku, hingga bantuan profesional bila diperlukan.

CBT adalah salah satu metode psikoterapi paling efektif untuk mengatasi perilaku kompulsif seksual. Dikutip dari jurnal Health Science Reports yang disitasi oleh Mitra Keluarga, intervensi dengan CBT terbukti efektif mengatasi dampak negatif dari PMO, termasuk gangguan kecemasan, depresi, dan perilaku kompulsif seksual. Terapi ini berfokus pada mengenali pola pikir dan perilaku pemicu kecanduan, mengelola dorongan seksual secara rasional tanpa melampiaskannya pada onani, serta meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan dorongan seksual.