Indra juga mengingatkan agar masyarakat tidak membawa anak-anak, khususnya balita, terlalu dekat dengan sumber suara. Menurutnya, keluhan telinga berdenging setelah terpapar suara keras dapat menjadi tanda awal adanya gangguan akibat kebisingan.

Untuk pencegahan, ia menyebut penggunaan penyumbat telinga sederhana belum tentu cukup untuk menghadapi paparan suara ekstrem. Menurutnya, cara paling aman adalah menjaga jarak dari sumber suara.

UMM juga membuka peluang bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melakukan pemetaan tingkat kebisingan dan menentukan jarak aman bagi masyarakat.

"UMM memiliki alat pengukur suara yang sangat memadai, sehingga kami dari Fakultas Kedokteran sangat siap bersinergi dengan pemerintah daerah maupun institusi terkait guna memetakan jarak aman agar hiburan seni tetap bisa berjalan tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat," tandasnya.

Persoalan sound horeg tidak hanya berkaitan dengan kebisingan dan kenyamanan lingkungan. Dalam catatan NadiKabar, setidaknya tiga orang meninggal dunia dalam insiden yang berkaitan dengan parade sound horeg selama Agustus 2026.

Korban pertama adalah SN (29), kru sound horeg di Jember, yang meninggal setelah kepala terbentur gapura ketika berada di atas truk pengangkut perangkat sound system. Peristiwa itu terjadi pada Minggu (2/8/2026) saat rombongan dalam perjalanan pulang setelah mengikuti karnaval di Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji.

"Kejadiannya hari Minggu (2/8), saat kendaraan melintas di bawah gapura pembatas desa," kata Komandan Regu 1 Unit Gakkum Satlantas Polres Jember, Aiptu Hasan Basri saat itu.

Korban diduga tertidur di atas bak truk ketika kendaraan melintas di Jalan Krasak, Desa Candijati, Kecamatan Arjasa. Benturan tersebut menyebabkan SN mengalami luka fatal hingga meninggal dunia.

Korban kedua adalah Bonari (44), warga Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi. Ia meninggal saat mengikuti karnaval sound horeg untuk memperingati HUT ke-81 RI pada Minggu (23/8/2026).

Sebelum mengikuti karnaval, Bonari disebut sempat mengonsumsi minuman keras jenis arak. Setelah berjalan sekitar 1 kilometer dari garis start, tubuhnya mendadak oleng dan terjatuh.

Peserta lain dan petugas kemudian membawa Bonari ke Puskesmas Pesanggaran, tetapi nyawanya tidak tertolong. Parade sound horeg kemudian dihentikan sekitar pukul 20.00 WIB dan seluruh sound dimatikan meskipun rangkaian karnaval masih berlangsung.

Korban ketiga sekaligus insiden terbaru adalah Slamet Timbang (57), warga Desa Wringinagung, Kecamatan Jombang, Jember. Ia meninggal setelah tertimpa kanopi dan tembok sebuah apotek ketika sedang mengantar istrinya membeli obat pada Sabtu (29/8/2026).

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.30 WIB ketika karnaval dan parade sound horeg digelar di Desa Wringinagung. Slamet disebut sedang menunggu istrinya di sekitar apotek ketika bangunan tiba-tiba ambruk dan menimpanya.

"Korban pas menunggu istrinya beli obat. Tidak selang berapa saat ada suara keras dan korban sudah tersungkur tertimpa tembok. Kondisinya meninggal di tempat," kata Ulum.

Warga kemudian bersama aparat kepolisian mengevakuasi korban. Ulum menduga bangunan apotek sudah tua dan lapuk, sementara getaran keras dari kegiatan cek sound sehari sebelumnya juga disebut berpotensi memperparah kondisi bangunan.

"Robohnya dinding apotek tersebut sepertinya akibat struktur bangunan yang sudah tua dan lapuk," ujarnya.

"Bangunannya sepertinya sudah tua. Kemungkinan juga karena getaran suara cek sound yang sangat keras semalam, jadi bangunannya retak lalu ambruk hari ini," tandas Ulum.