NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Energi Bahlil Lahadalia melakukan pengendalian produksi batu bara nasional melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, serta mendorong kenaikan harga komoditas tersebut.

Kebijakan tersebut ditempuh setelah Indonesia memasok hampir separuh batu bara yang diperdagangkan di dunia pada 2025, tetapi harga komoditas tersebut justru jatuh ke titik terendah.

"Jadi produksinya terkoreksi, turun, tapi pendapatannya naik. Ini baru paten. Gak dijual murah barang kita," kata Bahlil yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagaimana keterangannya di Jakarta, Selasa.

Bahlil menjelaskan, konsumsi batu bara dunia mencapai sekitar 8,9 miliar ton per tahun. Dari jumlah tersebut, batu bara yang diperdagangkan antarnegara hanya sekitar 1,3 miliar ton.

Pada 2025, Indonesia memasok sekitar 540 juta ton batu bara atau setara 43 persen dari total pasokan yang diperdagangkan di pasar global.

Namun, besarnya volume pasokan tersebut tidak berbanding lurus dengan keuntungan yang diperoleh perusahaan maupun penerimaan negara.