NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia meminta pengusaha nikel untuk menahan produksinya guna menjaga harga komoditas tambang tersebut di pasar internasional.

"Saya minta kepada teman-teman, industri dan pengusaha tambang (nikel) ini, kita harus bisa menahan diri," ujar Bahlil dalam pembukaan Mineral and Batubara Convention and Exhibition (Minerba Convex) 2026 yang digelar di Jakarta, Senin.

Bahlil menyampaikan bahwa harga nikel saat ini berada di bawah 16 ribu dolar AS per ton, yakni berkisar di level 15 ribu dolar AS per ton.

Menurut Bahlil, rendahnya harga nikel di pasar internasional disebabkan oleh produksi Indonesia yang surplus.

Ia menyoroti terjadinya kelebihan pasokan nikel sekitar 800 ribu ton di pasar dunia.

Oleh karena itu, Bahlil yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memerintahkan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno untuk mengendalikan suplai nikel dalam pemberian persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB).

"Pak Dirjen, menurut saya, strategi untuk mengendalikan suplai dan demand lewat RKAB untuk di nikel, itu dilakukan, saya yang tanggung jawab. Untuk kebaikan bangsa dan negara enggak usah ragu-ragu," ujar Bahlil.

Bahlil menyampaikan langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan tingkat kebutuhan nikel dunia dengan produksi nikel yang dilakukan di Indonesia. Ia pun mengingatkan bahwa nikel bukan merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui.

"Nikel kalau diambil, habis, ya nggak bisa ada lagi. Jadi, pengelolaannya betul-betul harus dengan bijaksana," kata Bahlil.