NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengatakan total subsidi untuk liquefied petroleum gas atau LPG mencapai sekitar Rp100 triliun akibat lonjakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) yang terdampak gejolak geopolitik.
"Saat ICP-nya masih di 70 dolar AS per barel, itu subsidi kita mencapai Rp87 triliun. Tetapi begitu ICP-nya rata-rata sekarang di angka 90 sampai 100 dolar AS per barel, subsidi kita di atas hampir Rp100 triliun,” ucap Bahlil dalam peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10).
Bahlil yang juga merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa lonjakan tersebut terjadi akibat ketidakpastian geopolitik, seperti perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, perang antara Ukraina melawan Rusia, serta perang yang melebar ke Arab Saudi.
Berbagai perang tersebut, kata Bahlil, melahirkan ketidakpastian energi.
"Hampir semua dunia sekarang berpikir tentang bagaimana bisa mengamankan sektor energi mereka dari dalam negeri mereka masing-masing. Ini tantangan kita," ucap Bahlil.